![]() |
| Abd. Halim Amsur berdiri ditengah dengan stelan jas IPHI |
SIMPULINDONESIA.com_Bulukumba — Kegiatan Training Remaja Masjid yang dilaksanakan di Masjid Syuhada 45 Borongjatie, Kelurahan Jalanjang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, menjadi ruang refleksi sejarah kaderisasi remaja masjid yang telah berjalan sejak tahun 1990-an.
Dalam kegiatan tersebut, Pengurus DPD BKPRMI
Bulukumba Abd. Halim Amsur mengajak peserta menelusuri sosok di balik
keberlanjutan pengkaderan Remaja Masjid Syuhada 45 Borongjatie.
Panitia menyebut nama almarhum Ustadz
Abdul Rahman (Allahuyarham) sebagai tokoh yang merintis dan
menghidupkan kaderisasi remaja masjid secara konsisten dari generasi ke
generasi.
Pengkaderan yang dilakukan secara
berkesinambungan itu telah melahirkan ratusan kader remaja masjid yang kini
berkiprah di berbagai bidang pengabdian umat dan masyarakat. Amal kebaikan
almarhum Ustadz Abdul Rahman pun diyakini terus mengalir pahalanya hingga hari
ini.
Dalam penyampaiannya, Abd. Halim Amsur menguatkan pesan inspiratif itu
dengan mengutip sabda Rasulullah Saw:
“Barangsiapa
memulai atau mencontohkan perbuatan baik (sunnah hasanah) dalam Islam, maka ia
mendapatkan pahala dari perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikutinya,
tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”
Sebagai narasumber, Abd. Halim Amsur, yang juga Penyuluh Agama Islam,
menyampaikan bahwa kaderisasi remaja masjid adalah investasi jangka panjang
yang hasilnya baru akan terasa di masa depan. Di hadapan puluhan remaja masjid,
ia menegaskan bahwa proses yang dijalani hari ini akan menjadi identitas dan
kebanggaan di kemudian hari.
“Lima,
sepuluh, hingga dua puluh tahun yang akan datang, kalian akan mengatakan dengan
bangga: saya dulu alumni Remaja Masjid Syuhada 45 Borongjatie,” ujarnya
pada Ahad, 31 Januari 2026 malam.
Lebih lanjut, Abd. Halim Amsur, menekankan pentingnya
mendokumentasikan jejak perjuangan para pendahulu agar tidak hilang ditelan
waktu.
Menurutnya, karya dan warisan pemikiran menjadi jembatan pengenalan generasi
yang tidak sempat bertemu langsung dengan tokoh-tokoh terdahulu.
“Saya
mungkin tidak pernah bertemu dengan orangnya, dan tidak tahu siapa orangnya.
Tapi karena ada karyanya sehingga saya jadi tahu, apalagi kalau ada buku
biografinya,” tuturnya.
Ia pun mengajak para remaja masjid untuk mulai
berpikir dan berani mengambil peran dalam menulis serta menerbitkan buku biografi almarhum Ustadz Abdul Rahman,
yang mengaitkan perjuangan beliau dengan proses kaderisasi remaja masjid.
Menurutnya, hal tersebut bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga upaya
melanjutkan estafet perjuangan.
Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan
kesadaran sejarah, rasa bangga, serta tanggung jawab kader remaja masjid untuk
menjaga dan melanjutkan nilai-nilai perjuangan yang telah dirintis para
pendahulu, demi keberlanjutan dakwah dan pembinaan generasi umat di masa
mendatang.


