Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Industri Petrokimia Dinilai Gagal Jadi Solusi Tenaga Kerja di Bulukumba

Sabtu, 07 Februari 2026 | 12.53 WIB Last Updated 2026-02-07T07:03:40Z


SIMPULINDONESIA.com_ BULUKUMBA,- 6 Februari 2026, Rencana pembangunan industri petrokimia di Kabupaten Bulukumba kembali dikritik karena dinilai tidak memberikan solusi nyata bagi persoalan ketenagakerjaan masyarakat lokal. Klaim penyerapan tenaga kerja besar dianggap hanya janji semu yang berpotensi merugikan ekonomi dan lingkungan Bulukumba.

Koordinator Mimbar aksi Gerakan Perlawanan Rakyat (GPR) Bontobahari, Wa’diil, menegaskan bahwa peningkatan tenaga kerja dalam industri petrokimia hanya terjadi pada tahap awal pembangunan pabrik dan bersifat sementara.

“Lonjakan tenaga kerja memang terjadi saat fase konstruksi. Namun setelah pabrik beroperasi, kebutuhan tenaga kerja menurun drastis karena sistem produksi yang padat teknologi dan otomatisasi. Serapan tenaga kerja jangka panjang tidak sebanding dengan janji yang disampaikan,” ujar Wa’diil.

Ia menambahkan, Bulukumba selama ini bergantung pada sektor pariwisata berbasis alam, budaya, dan pesisir seperti kawasan wisata Tanjung Bira. Yang terbukti mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan. Kehadiran industri petrokimia justru berisiko merusak lingkungan pesisir dan menurunkan daya tarik wisata.

“Jika laut, pantai, dan kualitas udara terganggu, wisatawan akan berkurang. Dampaknya, lapangan kerja yang sudah ada justru terancam hilang,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Fajri, salah satu peserta aksi. Menurutnya, industri petrokimia membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus yang umumnya diisi oleh tenaga dari luar daerah.

“Masyarakat lokal hanya mendapat pekerjaan di level rendah dan bersifat sementara. Sehingga janji serapan tenaga kerja besar tidak berpihak pada warga Bulukumba,” tegas Fajri.

Ia juga menekankan bahwa pariwisata dan ekonomi berbasis budaya serta ekologi memiliki efek berganda yang lebih luas bagi masyarakat. “Usaha kecil, kerajinan, kuliner, dan transportasi lokal hidup dari pariwisata. Sebaliknya, industri petrokimia bersifat tertutup dan keuntungannya mengalir ke perusahaan besar,” katanya.

Gerakan Perlawanan Rakyat Bulukumba menilai industri petrokimia bukanlah solusi ketenagakerjaan yang berkelanjutan. Risiko kerusakan lingkungan dan terganggunya sektor pariwisata dinilai jauh lebih besar dibanding manfaat yang dijanjikan.

“Janji serapan tenaga kerja dari industri petrokimia hanyalah fatamorgana. Yang nyata adalah ancaman terhadap laut, pantai, dan pariwisata kita. Bulukumba membutuhkan pembangunan yang menjaga alam dan budaya, bukan yang mengorbankan masa depan rakyat,” tegas GPR Bulukumba.


Editor: Wahyudi


×
Berita Terbaru Update