![]() |
| Gambar: Kolase Aktivis Suandi Bali- tangkap layar Video Rekaman yang beredar di media sosial.(04/02/26) |
Kericuhan di Gerbang Utama
Ketegangan pecah di area gedung tempat berlangsungnya acara saat massa dari Kerukunan Keluarga Mahasiswa Bulukumba (KKMB) UINAM mencoba merangsek masuk. Para mahasiswa bermaksud menyampaikan orasi refleksi terkait ketimpangan pembangunan di daerah tersebut.
Namun, aspirasi tersebut dihadang ketat oleh barisan Satpol PP. Video yang viral di media sosial memperlihatkan aksi saling dorong dan kontak fisik yang tak terhindarkan. Meski beberapa mahasiswa terlihat mencoba menenangkan situasi dengan mengangkat tangan sebagai simbol aksi damai, tekanan dari kedua belah pihak membuat situasi sulit terkendali. Petugas keamanan di lapangan, di antaranya teridentifikasi sebagai Darbes dan Abhy, berupaya keras memukul mundur massa dari gerbang utama guna menjaga sterilitas acara kenegaraan.
Protes "Satu Nafas" di Ruang Paripurna
Tak hanya di luar gedung, kejutan terjadi di dalam ruang Sidang Paripurna DPRD Bulukumba. Dua aktivis perempuan, Anjar Sumiyana Masiga dan Nilam Mayasari, melakukan aksi heroik dengan menyuarakan penolakan warga Bontobahari terhadap rencana pembangunan industri petrokimia, amoniak, dan kilang minyak.
Sambil membentangkan spanduk di hadapan para pejabat dan anggota dewan, keduanya menegaskan bahwa proyek tersebut mengancam kawasan konservasi terumbu karang. Aksi ini berakhir dengan pengawalan ketat petugas yang menggiring keduanya keluar ruangan, namun pesan mereka telah membekas di tengah audiens sidang.
Kritik Tajam atas Respons Pemerintah
Menanggapi rentetan insiden tersebut, aktivis pemuda Bulukumba, Suandi Bali, melontarkan kritik pedas. Ia menilai tindakan represif aparat merupakan bentuk kemunduran demokrasi di hari bersejarah daerah.
"Pejabat publik seharusnya tidak alergi terhadap kritik. Penyampaian aspirasi bukanlah bumerang, melainkan cermin dari apa yang dirasakan rakyat," tegas Suandi.
Ia juga menyayangkan sikap DPRD yang dinilai cenderung abai dan pasif sebelum adanya aksi protes yang masif. Menurutnya, keberanian aktivis perempuan seperti Anjar dan Nilam adalah bukti bahwa masyarakat sangat mencintai kelestarian daerahnya di tengah ancaman industrialisasi besar-besaran.
Refleksi di Usia ke-66
Peristiwa ini menjadi catatan hitam sekaligus pengingat bagi Pemerintah Kabupaten Bulukumba. Di balik kemegahan seremoni, terdapat sumbatan komunikasi yang nyata antara pemerintah dan elemen masyarakat. Publik kini menanti langkah konkret pemerintah untuk membuka ruang dialog yang lebih inklusif demi memastikan pembangunan yang berkelanjutan tanpa mengesampingkan suara rakyat. (Red-msi)



