Dimana, jenazah almarhum yang telah dikebumikan itu dikabarkan terancam akan dibongkar kembali oleh RD pihak Ketua RT dan Surohim ketua Panitia Kematian setempat.
Ancaman keras tersebut diduga muncul lantaran keluarga almarhum belum mampu melunasi uang kematian sebesar Rp. 3,5 juta yang diminta oleh pihak RT dan Panitia.
Ironisnya lagi, ternyata pihak keluarga almarhum diketahui berasal dari kalangan tidak mampu. Istri almarhum sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pengobatan suaminya sebelum meninggal dunia.
Dalam keterbatasan ekonomi itu, keluarga hanya sanggup menyerahkan dana sebesar Rp. 1,5 juta yang diberikan kepada pihak masjid yang turut mengurus jenazah.
Beredar kabar rencana pembongkaran makam ini menuai kecaman dari warga sekitar bahkan masyarakat Psngkalpinang.
Salah seorang warga Kota Pangkalpinang yang enggan menyebutkan namanya menyebutkan tindakan tersebut sangat tidak berperikemanusiaan dan mencederai nilai-nilai sosial serta ajaran agama.
“Sungguh miris, orang meninggal dunia saja masih dijadikan ladang bisnis dan pungutan liar. Padahal mengurus jenazah itu ibadah Fardu Kifayah. Kewajiban bagi umat Muslim. Masa hanya karena belum bayar Rp. 3,5 juta, jenazah mau dibongkar ? Di mana hati nurani Ketua RT dan Panitia Kematian, apalagi mereka tahu keluarga ini orang miskin,” ungkap warga tersebut dengan nada kecewa.
Ancaman pembongkaran makam, jika benar-benar dilakukan, dinilai sebagai tindakan yang tidak hanya melanggar norma kemanusiaan, tetapi juga berpotensi melukai rasa keadilan masyarakat. Banyak pihak menilai persoalan ini seharusnya tidak dibiarkan berlarut-larut dan perlu segera mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Pangkalpinang.
Warga menilai, apabila persoalan kemanusiaan seperti ini tidak segera diatasi, maka hal tersebut akan menjadi catatan kelam dan memalukan bagi wajah pelayanan sosial di Kota Pangkalpinang.
Terlebih, menyangkut jenazah dan keluarga miskin yang seharusnya dilindungi, bukan justru ditekan dengan ancaman yang tidak manusiawi. (Aimy/KBO Babel).


