Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Di Tengah Ramainya Konten, Penyuluh Agama Halim Amsur Dorong Dai Hadir Menjaga Arah Tuntunan

Minggu, 15 Februari 2026 | 07.34 WIB Last Updated 2026-02-15T03:26:58Z

SIMPULINDONESIA.com_Bulukumba
— Menjelang Ramadhan 1447 H / 2026 M, Lembaga Dakwah dan Syiar Islam (LDSI) BKPRMI Bulukumba menggelar Pelatihan Dai dan Daiyah yang berlangsung selama dua hari, sejak 14–15 Februari 2026, bertempat di Masjid Kapal Munzalan Bulukumba.

Keterlibatan dai dalam pemanfaatan media sosial menjadi salah satu topik utama dalam pelatihan tersebut, khususnya pada sesi yang dilaksanakan Sabtu malam, 14 Februari 2026.

Pada materi tersebut, Abd. Halim Amsur bertindak sebagai narasumber. Di kalangan BKPRMI, ia dikenal sebagai Direktur Daerah Lembaga Pengembangan Ekonomi Kreatif Kewirausahaan dan Investasi (LPEKIN) BKPRMI Bulukumba, sekaligus Penyuluh Agama Islam KUA Bontobahari.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa media sosial hari ini bukan sekadar ruang hiburan, melainkan telah menjadi ruang dakwah baru yang sangat menentukan arah pemahaman umat. Namun demikian, para dai juga dihadapkan pada berbagai tantangan besar akibat cara kerja algoritma media sosial.

“Algoritma media sosial lebih sering menguatkan apa yang ramai, bukan apa yang bernilai. Yang benar belum tentu viral, dan yang viral belum tentu benar,” ujarnya di hadapan para peserta pelatihan.

Ia juga mengingatkan bahwa jika para dai memilih diam dan tidak mengambil peran di ruang digital, maka hal tersebut akan berdampak jangka panjang terhadap generasi mendatang. “Jika hari ini dai tidak hadir di media sosial, maka kita perlu bertanya, sepuluh tahun ke depan nilai halal dan haram itu masih akan dikenal atau justru semakin kabur,” tambahnya.

Lebih lanjut, Penyuluh Agama KUA Bontobahari ini menyoroti realitas konten di media sosial yang kerap menempatkan perempuan sebagai objek tampilan, bukan kemuliaan. Konten edukatif sering kali sepi peminat, sementara konten sensasional justru ramai dan dijadikan komoditas demi klik dan popularitas.

“Umat hari ini tidak kekurangan tontonan, tetapi justru kekurangan tuntunan. Kebenaran sering kali kalah oleh klik,” tegasnya.

Melalui pelatihan ini, ia mengajak para dai dan daiyah BKPRMI Bulukumba untuk tidak alergi terhadap media sosial, tetapi justru menguasainya dengan nilai, etika, dan pesan dakwah yang mencerahkan. Menurutnya, dai yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan prinsip akan mampu menjaga arah dakwah tetap relevan dan bermakna.

Sementara itu, Direktur Daerah LDSI BKPRMI Bulukumba, Ustadz Sabir, menambahkan bahwa kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya BKPRMI Bulukumba dalam memperkuat kapasitas dai dan daiyah agar mampu menjawab tantangan dakwah kontemporer, khususnya di era digital.
×
Berita Terbaru Update