Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Hadapi Disrupsi, Praktisi Media Serukan Kolaborasi di Hari Penyiaran Nasional ke-93

Kamis, 02 April 2026 | 11.31 WIB Last Updated 2026-04-02T04:32:49Z


SIMPULINDONESIA.com_ BULUKUMBA,– Hari Penyiaran Nasional (HPN) ke-93 yang jatuh pada 1 April 2026 menjadi momentum krusial bagi industri media di Indonesia. Mengusung tema "Kolaborasi Penyiaran Mewujudkan Ketahanan Nasional", peringatan tahun ini menyoroti urgensi adaptasi dan sinergi di tengah badai disrupsi digital yang kian kompleks.

Praktisi media penyiaran, Saiful Alief Subarkah—yang akrab disapa SAS—menegaskan bahwa eksistensi penyiaran kini tidak lagi sekadar tentang transmisi informasi, melainkan tentang tanggung jawab menjaga kedaulatan ruang publik.


Kolaborasi di Era Disrupsi

Menurut SAS, kekuatan utama penyiaran di masa depan terletak pada kemampuan membangun ekosistem yang sehat. Di tengah derasnya arus informasi yang seringkali tidak terverifikasi, kolaborasi menjadi satu-satunya jalan keluar.


"Tidak ada lagi ruang bagi media untuk berjalan sendiri-sendiri. Sinergi antara lembaga penyiaran publik, swasta, komunitas, hingga platform digital adalah fondasi utama dalam menjaga kualitas informasi bagi masyarakat," ujar SAS (01/04).


Informasi Sebagai Instrumen Pertahanan

Ia juga menekankan bahwa definisi ketahanan nasional telah bergeser. Saat ini, ketahanan bukan lagi soal fisik semata, melainkan mencakup ketahanan informasi dan budaya. Penyiaran memegang peran strategis dalam:

  •  Merawat nilai kebangsaan melalui konten berkualitas.
  • Memperkuat literasi media di tingkat akar rumput.
  •  Menangkal disinformasi dan hoaks yang berpotensi memecah belah persatuan.

Untuk mencapai hal tersebut, SAS menyerukan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga masyarakat luas.


Transformasi Digital dan Integritas

Refleksi 93 tahun ini juga menjadi pengingat bagi para pelaku industri untuk tetap adaptif. SAS memandang transformasi digital bukanlah ancaman, melainkan peluang besar untuk memperluas jangkauan pemirsa. Meski demikian, kecanggihan teknologi tetap harus dibarengi dengan kepatuhan pada etika jurnalistik yang ketat.


"Di balik kemajuan teknologi, integritas dan keberpihakan pada kepentingan publik harus tetap menjadi ruh utama penyiaran Indonesia," tambahnya.


Menatap Masa Depan

Menutup pernyataannya, SAS meyakini bahwa masa depan penyiaran nasional akan sangat ditentukan oleh inklusivitas dan keberlanjutan kolaborasi yang dibangun hari ini. Dengan semangat kebersamaan, penyiaran diharapkan terus menjadi penjaga harmoni sosial dan penggerak kemajuan bangsa.


Selamat Hari Penyiaran Nasional ke-93. Mari melangkah bersama, menghadirkan penyiaran yang mencerahkan, mengedukasi, dan mempersatukan Indonesia.

×
Berita Terbaru Update