KENDARI__SIMPULINDONESIA.COM,— Penggeledahan dugaan korupsi program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Halu Oleo (UHO) oleh Kejaksaan Negeri Kendari menuai sorotan tajam dari kalangan mahasiswa.
La Ode Azizul Ramadhan Rasyid (Azizul), mahasiswa Fakultas Teknik UHO, menyebut langkah aparat penegak hukum yang telah melakukan penggeledahan hingga penyitaan dokumen dan uang tunai sebagai indikator kuat bahwa perkara tersebut bukan lagi isu biasa.
“Kalau sudah masuk tahap penggeledahan, ini bukan dugaan ringan. Ini skandal serius yang mencoreng nama kampus,” ujar Azizul, Sabtu (11/4/2026).
Ia mempertanyakan fungsi pengawasan internal kampus yang dinilai gagal mendeteksi dugaan praktik tersebut.
“Bagaimana bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa terendus? Apakah pengawasan lumpuh, atau ada pembiaran? Ini harus dijawab secara terbuka,” tegasnya.
Selain kasus PPG, Azizul juga menyoroti kebijakan Badan Layanan Umum (BLU) yang dinilai berpotensi membebani mahasiswa.
“Kami tidak anti kebijakan. Tapi jika kebijakan itu tidak adil dan justru menekan mahasiswa, maka wajib dikritik,” katanya.
Sorotan utama diarahkan kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UHO yang dinilai tidak menunjukkan sikap di tengah dua isu besar tersebut.
“Di saat kampus diguncang skandal PPG dan polemik BLU, BEM justru membisu. Ini bukan sekadar kelalaian, ini sikap,” ujarnya.
Azizul juga menyinggung respons cepat BEM pada isu lain yang dinilai tidak bersentuhan langsung dengan kebijakan struktural kampus.
“Kami tidak membenarkan kekerasan. Tapi publik juga melihat, saat isu yang menyentuh dugaan korupsi dan kebijakan kampus muncul, justru tidak ada suara,” katanya.
Ia menilai sikap tersebut mencerminkan kecenderungan selektif dalam menyikapi persoalan.
“Kalau hanya berani angkat isu yang aman dan tidak menyentuh birokrasi, lalu apa fungsi kontrol itu?” ucapnya.
Menutup pernyataannya, Azizul mengingatkan bahwa persoalan ini menyangkut keadilan dan masa depan pendidikan.
“Kalau hari ini didiamkan, besok mahasiswa yang jadi korban. Jika BEM tetap diam, mahasiswa bisa bergerak sendiri,” pungkasnya.
Dikonfirmasi via Whatsapp oleh Tim SIMPULINDONESIA.COM, Ketua BEM UHO Fitriyah Nurainun malah memilih bungkam dan tidak memberi respon hingga berita ini ditayangkan.
