Wacana kebijakan ekspor satu pintu yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto itu mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, khususnya para petani sawit di wilayah Bangka Tengah, Bangka Selatan, dan sekitarnya.
Sejumlah warga mengaku khawatir terhadap kondisi harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang mulai mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.
Selain harga sawit yang melemah, masyarakat; juga mengeluhkan kuota penerimaan buah sawit di sejumlah pabrik yang dinilai semakin terbatas. Kondisi tersebut membuat sebagian petani kesulitan menjual hasil panennya.
Salah satu warga masyarakat Desa Gudang saat berbincang dengan KBO Babel mengatakan, kondisi saat ini cukup membuat masyarakat resah karena harga sawit mengalami penurunan. Sementara harga pupuk semakin mahal dan kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan.
“Ini juga lebaran Idul Adha sudah dekat, ekonomi semakin sulit. Harga barang naik semua, sedangkan hasil sawit menurun. Kami berharap ada perhatian pemerintah terhadap masyarakat kecil,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan masyarakat di Bangka Selatan yang mengaku saat ini beban ekonomi semakin terasa. Menurut mereka, kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari tidak sebanding dengan pendapatan hasil kebun yang terus menurun.
Masyarakat berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat segera memberikan solusi agar harga sawit kembali stabil dan aktivitas pabrik sawit dapat berjalan normal sehingga petani tidak semakin terbebani.
Hingga saat ini, wacana ekspor satu pintu masih menjadi perhatian berbagai kalangan karena dinilai dapat berdampak terhadap harga komoditas sawit di daerah, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Lebijakan ekspor satu pintu skan berdampak memicu ketidakpastian pasar yang mematikan daya tawar petani, membuat pabrik terkesan menahan pembelian atau menurunkan harga sepihak.
Menyikapi jeritan petani, DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kinj telah bergerak cepat dengan mengawal ketat harga TBS, meminta ketransparanan, serta mengancam akan mengevaluasi izin bagi perusahaan yang membeli TBS di bawah harga wajar. (Aimy/KBO Babel).
