Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Strom Amburadul, PLN Diduga Tutup Mata, Warga Konawe Utara Mengamuk di Kendari

Kamis, 14 Mei 2026 | 12.32 WIB Last Updated 2026-05-14T05:32:22Z

Gambar : Saat warga Konawe Utara mendatangi kantor PLN UP3 Kendari Sulawesi Tenggara. (Foto/Ist).


KENDARI__SIMPULINDONESIA.COM,— Krisis kelistrikan di Kabupaten Konawe Utara bukan lagi sekadar keluhan, melainkan sudah menjelma menjadi kemarahan kolektif yang meledak di depan Kantor PLN UP3 Kendari. Kamis (14/05/2026).


Di balik aksi itu, tersimpan dugaan kuat adanya pembiaran sistemik terhadap persoalan strom listrik yang tak kunjung stabil yang kini mulai menyeret kerugian nyata di tengah masyarakat.


Warga datang bukan tanpa alasan. Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi listrik di Konawe Utara disebut semakin memburuk, padam tanpa pola yang jelas, tegangan naik-turun tak terkendali, hingga menyebabkan kerusakan masif pada peralatan elektronik warga.


Televisi, kulkas, mesin cuci, hingga alat usaha kecil dilaporkan rusak satu per satu. 


Ironisnya, di tengah kerugian yang terus membengkak, masyarakat mengaku belum melihat langkah konkret maupun transparansi dari pihak PLN terkait akar persoalan yang terjadi.


Dengan membawa spanduk dan tuntutan tegas, massa menuding adanya kegagalan serius dalam pelayanan publik sektor kelistrikan. 


Mereka menilai, kondisi ini bukan lagi gangguan teknis biasa, melainkan cerminan lemahnya tanggung jawab dan pengawasan.


“Kami bayar listrik tepat waktu, tapi strom tidak stabil terus. Banyak alat elektronik warga rusak akibat tegangan listrik naik turun,” ujar Hendrik dalam orasinya pada Rabu (13/05/2026).


Pernyataan Hendrik mencerminkan akumulasi kekecewaan warga yang selama ini merasa dipaksa menerima kerugian tanpa kejelasan kompensasi. 


Ia bahkan menyampaikan kritik keras yang menohok langsung ke institusi penyedia layanan listrik tersebut.


“Jangan jadikan masyarakat Konawe Utara korban terus-menerus akibat buruknya pelayanan listrik. Hampir setiap hari strom tidak stabil, alat elektronik warga rusak, tapi PLN seolah tutup mata. Kalau tidak mampu memberikan pelayanan yang layak, jangan biarkan masyarakat terus dirugikan,” tegas Hendrik di hadapan massa aksi.


Sorotan tajam juga diarahkan pada dugaan minimnya transparansi PLN terkait penyebab utama gangguan. 


“Ini bukan kerugian kecil. Televisi, kulkas, mesin air sampai alat usaha warga rusak satu per satu. Masyarakat dipaksa menanggung kerugian sendiri akibat strom yang amburadul,” lanjutnya dengan nada tinggi.


Aksi yang berlangsung tegang itu akhirnya memaksa pihak PLN UP3 Kendari membuka ruang dialog dengan perwakilan massa. 


Namun, dialog tersebut belum menjawab tuntutan utama warga, kepastian solusi dan jaminan stabilitas listrik.


Masyarakat menegaskan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa langkah nyata, gelombang protes yang lebih besar akan kembali terjadi. 


Bagi warga Konawe Utara, ini bukan lagi sekadar soal listrik, melainkan soal keadilan pelayanan publik yang selama ini mereka rasakan timpang.

×
Berita Terbaru Update