KENDARI__SIMPULINDONESIA.COM,— Di tengah gegap gempita Pesta Rakyat Gala Dinner UCLG ASPAC 2026, sorotan publik justru terseret pada satu sosok pejabat. Sabtu (09/05/2026).
Camat Kadia Hasman Dani kembali menjadi bahan perbincangan panas, setelah video dirinya berjoget beredar luas dan memantik reaksi keras dari berbagai kalangan.
Rekaman yang beredar memperlihatkan sang camat larut dalam suasana hiburan, berjoget secara ekspresif di tengah acara yang dilabeli sebagai “pesta rakyat”.
Namun, alih-alih menuai simpati, aksi tersebut justru memicu pertanyaan serius.
Etika Camat Kadia tersebut dipertanyakan.
Ini bukan kali pertama. Nama Camat Kadia sebelumnya juga sempat viral saat mengikuti kegiatan studi banding dan studi tiru di Denpasar, Bali.
Pada saat Hasman Dani mengikuti studi banding dan studi tiru di Denpasar Bali, foto dirinya juga tersebar saat ia lagi berendam di kolam renang Atlas Beach Club.
Rentetan kejadian ini memperkuat kesan bahwa kontroversi bukan lagi insiden tunggal, melainkan pola yang berulang.
Reaksi keras datang dari Ikatan Mahasiswa Aktivis Lintas Kampus Sulawesi Tenggara (IMALAK Sultra).
Ketua Umum IMALAK Ali Sabarno menilai, perilaku pejabat yang gagal menjaga sikap di ruang publik merupakan contoh buruk yang tidak layak ditiru.
“Pejabat publik itu simbol. Ketika simbol itu kehilangan wibawa, maka yang runtuh bukan hanya individu, tapi kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Ali Sabarno menilai video tersebut berpotensi mencoreng citra Pemerintah Kota Kendari, terlebih karena berlangsung dalam acara resmi berskala internasional.
Label “pesta rakyat” yang disematkan pada kegiatan itu kini dipertanyakan, setelah muncul kesan eksklusivitas dan kontroversi di dalamnya.
Sorotan juga mengarah pada gaya joget yang dinilai sebagian pihak terlalu frontal dan tidak mencerminkan etika seorang aparatur negara.
Di ruang publik yang sarat simbol kekuasaan, gestur semacam itu dianggap bukan sekadar hiburan, melainkan representasi sikap pejabat terhadap jabatan yang diemban.
Apakah insiden ini akan dianggap sekadar euforia sesaat, atau justru menjadi pintu masuk untuk mengevaluasi standar etika pejabat di ruang publik?
Satu hal yang pasti, di era ketika kamera bisa mengabadikan setiap detik, batas antara ruang pribadi dan tanggung jawab publik tak lagi bisa dinegosiasikan.
Sampai berita ini ditayangkan, Tim SIMPULINDONESIA.COM masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait.
