KENDARI__SIMPULINDONESIA.COM,— Menjelang pergantian pucuk pimpinan Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara, dinamika internal Polri mulai bergerak dalam senyap. Kamis (07/05/2026).
Di balik belum keluarnya surat telegram Kapolri, sejumlah nama perwira tinggi diam-diam menguat, memicu spekulasi adanya tarik-menarik kepentingan dalam penentuan Kapolda Sultra.
Meski tak tertulis dalam aturan resmi, tradisi lama di tubuh Polri masih terasa kental, senioritas dan angkatan akademi menjadi “kunci tak kasat mata” dalam perebutan jabatan strategis.
Sorotan pun mengarah pada lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1993 dan 1994, generasi yang kini berada di puncak karier dengan jaringan kuat dan pengalaman panjang di lapangan.
Sejumlah nama mulai beredar di lingkaran elite, Asep Safrudin (Kapolda NTT), Ade Deryana Wijaya (Kapolda Sulbar), hingga Pipit Rismanto (Kapolda Kalbar).
Namun dari ketiganya, satu nama disebut paling “siap tempur” untuk Sulawesi Tenggara yakni Irjen Pipit Rismanto.
Sumber internal menyebut, rekam jejak Pipit bukan sekadar administratif.
Ia pernah duduk di kursi strategis sebagai Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, posisi yang berhadapan langsung dengan kejahatan kelas berat, tambang ilegal, penyelundupan sumber daya alam, hingga mafia distribusi BBM.
Konteks ini menjadi krusial. Sulawesi Tenggara bukan wilayah biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, daerah ini menjadi sorotan akibat maraknya aktivitas pertambangan ilegal dan dugaan praktik penyelewengan BBM yang disebut-sebut melibatkan jaringan kuat.
“Kapolda Sultra ke depan tidak cukup hanya menjaga stabilitas keamanan. Harus ada keberanian membongkar jaringan besar yang selama ini seolah kebal hukum,” ujar salah satu pengamat yang enggan disebutkan namanya.
Di titik inilah, pertaruhan sesungguhnya dimulai. Siapa pun yang akan ditunjuk, publik menanti bukan sekadar figur pemimpin, tetapi sosok yang berani menyentuh “wilayah sensitif” yang selama ini jarang tersentuh.
Pergantian Kapolda Sultra bukan sekadar rotasi jabatan. Ini adalah ujian, apakah Polri berani menempatkan figur yang siap berhadapan dengan kepentingan besar, atau justru kembali bermain aman di tengah pusaran masalah yang terus berulang.
