KENDARI__SIMPULINDONESIA.COM,— Polemik kepemimpinan di tubuh Bank Sultra kian memanas. Mantan Gubernur Sulawesi Tenggara, Dr. H. Nur Alam, S.E., M.Si, secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap kompetensi Direktur Utama Bank Sultra, Andri Permana Diputra Abubakar. Sabtu (09/05/2026).
Sorotan ini bukan sekadar kritik biasa. Pernyataan Nur Alam membuka dugaan serius soal kualitas kepemimpinan di salah satu bank pembangunan daerah strategis di Sulawesi Tenggara.
Dalam keterangannya, Nur Alam bahkan secara tegas mempertanyakan kelayakan Andri Permana menduduki kursi tertinggi di Bank Sultra.
“Direktur Utama Bank Sultra itu, yang bersangkutan itu tidak kompeten dan tidak memenuhi kompetensi. Jadi selain tidak kompeten, juga tidak memenuhi kompetensi, baik dari sisi jenjang jabatan maupun pengalaman untuk memimpin lembaga yang setingkat,” ujar Nur Alam.
Pernyataan ini menjadi alarm keras terhadap standar penunjukan pimpinan di sektor perbankan daerah, yang seharusnya mengedepankan profesionalisme, rekam jejak, dan pengalaman yang teruji.
Nur Alam menegaskan, posisi Direktur Utama Bank Sultra bukan jabatan biasa, melainkan posisi strategis dengan tanggung jawab besar yang setara dengan pimpinan bank nasional.
“Jadi saya ulangi tadi itu, dia tidak kompeten dan tidak memenuhi kompetensi, baik dari sisi kapasitas maupun pengalaman jenjang jabatannya untuk menjadi seorang Direktur Utama pada perbankan yang punya tingkatan pusat seperti Bank Sultra,” katanya.
Dalam analisisnya, Nur Alam menyebut bahwa skala operasional Bank Sultra tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dengan jaringan kantor yang luas dan peran vital dalam perekonomian daerah, standar kepemimpinan seharusnya setara dengan bank-bank besar nasional.
“Bank Sultra walaupun berdomisili di daerah, itu sama dengan Direktur Utama Bank BNI, Bank Mandiri, Bank BRI, yang memiliki cabang-cabang utama kemudian cabang pembantu dan tersebar di berbagai tempat,” tambahnya.
Pernyataan ini sekaligus menyiratkan adanya kesenjangan antara besarnya tanggung jawab institusi dengan kapasitas figur yang memimpin.
Lebih jauh, Nur Alam mengungkap potensi dampak serius jika persoalan kompetensi ini tidak segera dibenahi. Ia menilai, kepemimpinan yang tidak memenuhi standar berpotensi langsung memengaruhi fungsi utama perbankan.
“Intermediasinya pasti lemah. Kemudian sekaligus merusak tatanan kaderisasi internal kader-kader Bank Sultra itu sendiri,” tegasnya.
Pernyataan ini mengindikasikan adanya risiko sistemik, bukan hanya pada kinerja keuangan, tetapi juga pada masa depan sumber daya manusia di dalam Bank Sultra.
Sorotan lain yang tak kalah tajam adalah soal potensi terpinggirkannya kader internal.
Menurut Nur Alam, Bank Sultra sebenarnya memiliki sumber daya manusia yang mumpuni dan berpengalaman secara struktural.
“Padahal kader-kader internal Bank Sultra itu sudah cukup banyak yang memiliki kemampuan dan pengalaman,” ujarnya.
Ini memunculkan pertanyaan krusial: apakah proses penunjukan pimpinan telah mengabaikan mekanisme meritokrasi?
Di tengah ketatnya persaingan industri perbankan, baik dengan bank pemerintah maupun swasta nasional, Nur Alam menilai figur pemimpin seharusnya memiliki rekam jejak prestasi yang jelas dan terukur.
Namun ia justru menilai hal itu tidak terlihat pada sosok Dirut saat ini.
“Apalagi kita tidak pernah melihat prestasinya. Jadi enggak ada prestasi,” katanya.
Sampai berita ini ditayangkan, belum ada konfirmasi dari pihak terkait, Tim SIMPULINDONESIA.COM masih berupaya melakukan konfirmasi.
