Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Razia Berulang, Penambang Tak Tersentuh: Laut Keranggan–Tembelok Dikuasai PIP Ilegal

Sabtu, 04 April 2026 | 13.50 WIB Last Updated 2026-04-04T06:50:48Z


SIMPULINDONESIA.com_ BANGKA BARAT,– Aktivitas tambang timah ilegal menggunakan Ponton Isap Produksi (PIP) jenis selam di perairan Keranggan–Tembelok kian menunjukkan wajah aslinya: masif, terang-terangan, dan seolah kebal hukum. Di tengah deru mesin yang nyaris tak pernah berhenti, masyarakat hanya menjadi penonton sekaligus korban tanpa perlindungan, kompensasi, maupun kepastian keselamatan. Kamis (2/4/2026).

Informasi yang dihimpun di lapangan mengungkap bahwa praktik penambangan ilegal ini terus berlangsung siang dan malam. Tidak lagi sembunyi-sembunyi, aktivitas tersebut justru semakin terbuka, memperlihatkan lemahnya efek jera dari penindakan yang selama ini dilakukan.

Seorang warga setempat berinisial Fan menuturkan, kebisingan mesin ponton telah menjadi suara latar yang tak pernah hilang dari kehidupan mereka. Ironisnya, dampak yang ditanggung warga tidak pernah diimbangi dengan tanggung jawab apa pun dari para pelaku.

"Mereka kerja siang malam, Pak. Dekat sekali dengan permukiman. Tapi tidak ada kompensasi apa pun untuk kami yang terdampak," ujarnya, Rabu (1/4/2026).

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah negara benar-benar hadir di tengah aktivitas ilegal yang sedemikian terang-benderang?

Razia Tanpa Efek, Hukum Kehilangan Wibawa
Upaya penertiban oleh aparat penegak hukum sejatinya telah dilakukan melalui berbagai razia yang berulang kali digelar. Namun, fakta di lapangan justru memperlihatkan pola yang sama: ditindak hari ini, kembali beroperasi esok hari.

Fenomena ini menandakan satu hal yang mengkhawatirkan—bahwa hukum tidak lagi memiliki daya gentar di hadapan para pelaku tambang ilegal. Seolah-olah ada kekuatan yang membuat mereka merasa tidak tersentuh.

"Sudah sering dirazia, tapi tetap saja mereka kerja lagi. Seolah hukum ini tidak dianggap," tegas Fan.

Ketika penegakan hukum hanya berhenti pada rutinitas razia tanpa keberlanjutan, maka yang terjadi bukanlah penertiban yang tuntas, melainkan kesan adanya pembiaran yang terselubung.

Nyawa Jadi Taruhan, Tanggung Jawab Menguap
Di balik aktivitas ilegal tersebut, terdapat risiko yang jauh lebih besar daripada sekadar kerusakan lingkungan: nyawa manusia. PIP jenis selam dikenal sangat minim standar keselamatan dan cenderung mengabaikan prosedur dasar kerja di bawah laut.

Beberapa bulan lalu, sebuah insiden tragis memakan korban. Seorang pekerja dilaporkan meninggal dunia akibat mengalami kram saat menyelam di kedalaman. Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata bahwa aktivitas ini bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga mematikan.

Hingga kini, tidak ada kejelasan mengenai pertanggungjawaban maupun jaminan keselamatan bagi para pekerja yang setiap hari mempertaruhkan nyawa di bawah laut.

"Kalau ada yang meninggal, siapa yang tanggung jawab? Ini cuma memperkaya oknum di belakang layar," tambah Fan. Pernyataan ini memperkuat dugaan adanya aktor-aktor kuat yang menikmati keuntungan besar tanpa pernah tersentuh jerat hukum.

Negara Diuji, Aparat Ditantang
Kondisi di Keranggan–Tembelok kini bukan lagi sekadar persoalan tambang tanpa izin. Ini adalah ujian nyata bagi wibawa negara dan integritas penegakan hukum di wilayah Bangka Barat.

Masyarakat mendesak agar aparat tidak lagi hanya memberikan imbauan atau melakukan razia sesaat. Penindakan harus dilakukan secara tegas, menyeluruh, dan berkelanjutan hingga menyasar akar permasalahan, termasuk pihak-pihak yang diduga menjadi penyokong atau "beking" di balik aktivitas ini.
Harapan besar kini tertuju kepada:
 * Polda Kepulauan Bangka Belitung
 * Polres Bangka Barat
 * Polsek Mentok
Jika tidak ada langkah konkret yang lebih keras, wilayah perairan ini terancam sepenuhnya dikuasai oleh praktik ilegal yang semakin liar. Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya ekosistem laut, tetapi juga kepercayaan publik terhadap keadilan. (Aimy / KBO Babel)

×
Berita Terbaru Update