Keputusan ini diambil setelah dilaksanakannya Sidang Isbat yang digelar secara tertutup di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Kamis malam (19/3/2026).
Hasil Pemantauan Hilal di Seluruh Indonesia
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari tim rukyatul hilal di 117 titik pemantauan yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia, posisi bulan (hilal) pada petang ini dilaporkan belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Data astronomi menunjukkan bahwa:
- Tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada pada rentang 0,91° hingga 3,13°.
- Sudut elongasi berada di antara 4,54° sampai 6,10°.
Sesuai kriteria baru MABIMS, hilal dinyatakan terlihat jika mencapai ketinggian minimal 3 derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat. Karena parameter tersebut belum tercapai di mayoritas titik pantau, maka bulan Ramadan tahun ini digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dalam konferensi pers usai Sidang Isbat menyampaikan bahwa keputusan ini merupakan hasil musyawarah bersama ormas Islam, pakar astronomi, dan perwakilan negara sahabat.
"Secara mufakat Sidang Isbat menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu, tanggal 21 Maret 2026. Keputusan ini didasarkan pada perhitungan hisab yang dikonfirmasi dengan laporan rukyatul hilal di lapangan yang belum berhasil melihat hilal secara meyakinkan," ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Beliau juga berpesan agar perbedaan waktu perayaan Idul Fitri di tengah masyarakat tetap disikapi dengan semangat toleransi dan persaudaraan sebagai wujud moderasi beragama di Indonesia.
Segenap jajaran pemerintah mengucapkan selamat merayakan hari kemenangan bagi seluruh umat Muslim di Indonesia:
"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT dan kita kembali fitrah dalam keberkahan."
