SIMPULINDONESIA.COM, KENDARI — Proyek pengerjaan crossdrain di ruas batas Kabupaten Konawe Selatan–Kota Kendari menuai sorotan tajam.
Alih-alih mengurai aliran air, proyek bernilai miliaran rupiah itu justru diduga menjadi penyebab banjir lumpur yang menerjang permukiman warga.
Sedikitnya tujuh rumah di RT 5 dan RT 6 Kelurahan Sabuli Kecamatan Nambo Kota Kendari dilaporkan terdampak.
Air tak hanya menggenangi, tetapi juga membawa lumpur pekat yang masuk hingga ke dalam rumah.
Kejadian tersebut diketahui terjadi pada Jumat (27/03/2026).
Warga menilai, kondisi ini tidak pernah terjadi sebelum proyek dimulai.
“Dulu, meski hujan deras, tidak pernah banjir seperti ini,” ujar seorang warga dalam rekaman video yang diterima redaksi.
“Setelah ada proyek jembatan ini, air seperti dibendung. Mereka pasang karung berisi pasir, akhirnya aliran tersumbat dan meluap ke rumah kami.”Sambungnya.
Dari penelusuran awal, warga menduga adanya perubahan alur drainase akibat pekerjaan proyek.
Penumpukan material, termasuk karung berisi pasir yang ditempatkan di sekitar lokasi, disebut mempersempit bahkan menutup jalur aliran air.
Akibatnya, saat hujan turun, air tidak lagi mengalir normal ke hilir, melainkan meluap dan mengarah ke kawasan permukiman.
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius terkait perencanaan teknis proyek. Apakah analisis dampak lingkungan dan sistem drainase telah diperhitungkan secara matang? Ataukah pengerjaan dilakukan tanpa mitigasi risiko yang memadai?
Proyek yang menggunakan anggaran negara tersebut diketahui dikerjakan oleh CV Cipta Karya.
Warga pun mendesak pemerintah daerah dan pihak pelaksana proyek segera turun tangan.
Mereka meminta evaluasi menyeluruh serta langkah cepat untuk mengembalikan fungsi drainase agar banjir tidak terus berulang.
Jika tidak, proyek yang semestinya membawa manfaat justru berpotensi menjadi sumber bencana baru bagi masyarakat.
Sampai berita ini ditayangkan belum ada konfirmasi dari pihak terkait, Tim SIMPULINDONESIA.COM masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait.
