Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Mau Kaya Berkah atau Kaya Melarat? Jawab Dulu Soal 2,5 Persen Itu

Kamis, 25 September 2025 | 10.51 WIB Last Updated 2025-09-28T04:01:57Z



Oleh: Abd. Halim Amsur

(Penyuluh Zakat/Sekretaris UPZ Kecamatan Bontobahari)


Kalau biasanya tripika kumpul, yang dibahas itu soal jalan berlubang, gedung mangkrak, atau rencana jangka menengah yang tidak diketahui kapan terealisasi. Tapi kali ini agak beda, lebih seru, lebih pedas, dan jujur saja lebih “nyentil.”

 

Bayangkan saja, selepas makan siang nasi kebuli (racikan ibu-ibu dapur Al Mutahabbun), pada Selasa, 23 September 2025. Mulai Camat, Kapolsek, Kepala KUA, Perwakilan Danramil, ustadz, sampai penyuluh agama duduk di Gazebo milik Ponpes. Dan topiknya bukan proyek miliaran, tapi zakat. Yes, zakat! Yang cuma 2,5 persen dari harta, tapi sering lebih susah keluar daripada izin bangun rumah.

 

Ustadz Muslim Bahar dengan enteng mengatakan, “Kalau ratusan orang miskin mau disejahterakan, tidak na lewati ji kantor camat, sudah bisa selesai. Potensi muzakki di Bontobahari ini besar sekali.”

Nah, di sinilah biasanya orang kaya mulai keringat dingin. Sebab, yang diminta bukan proposal, tapi kejujuran isi rekening.

 

H. Kardi malah lebih “to the point.” Katanya, banyak orang lebih rela bohong daripada jujur soal harta. Padahal, zakat itu bukan minta-minta, tapi perintah langsung. Bahasa kasarnya: jangan sok sayang sama harta, karena kalau tidak dizakatkan, haram dimakan. “Mungkin itu juga sumber penyakit yang tak kunjung sembuh, atau segala yang tidak dikehendaki kian datang silih berganti” katanya. Nyelekit, kan?

 

Kadang orang mengira zakat itu urusannya Baznas. Seolah-olah kalau ada waktu, taatlah; kalau lagi malas, abaikan pun tak apa. Padahal, kata H. Kardi, logika itu keliru besar. Zakat bukan program lembaga, tapi perintah Allah. Dan kalau sudah perintah Allah, statusnya bukan “opsi”, melainkan “wajib”, rukun Islam, titik.

 

Nah, kalau ada yang masih nekat mengabaikan, silakan tanggung risiko. Allah itu tidak butuh izin untuk menagih. Kata beliau, kalau Allah sudah turun tangan, bukan lagi sekadar 2,5 persen. Bisa sekalian harta pokok, bisa kesehatan, bisa juga rasa tenangmu. Intinya: suka-suka Allah.

 

Jadi, mau tunggu “auto-debet” dari Allah, atau bayar zakat dengan ikhlas sebelum ditagih langsung oleh Pemilik semesta?

 

Kapolsek yang baru empat bulan duduk manis di Bontobahari juga tidak mau kalah. Dengan santai ia bilang siap dihitungin asetnya biar “bersih nan suci.” Nah loh, kalau Kapolsek saja terbuka, masak pengusaha yang duitnya berlapis-lapis masih pura-pura tidak ngerti nisab?

 

Tapi memang begitu kenyataannya. KUA Bontobahari H. Amri Syam mengaku, ketika beberapa orang kaya, para pengurus UPZ se Bontobahari diundang hadir ke maulid plus ceramah Baznas pada Jumat 12 September 2025 lalu, hasilnya… yah, belum menggembirakan dan zakat yang terkumpul jalannya kayak keong.

 

Lebih serius dan menantang, Kapolsek dan Camat, ikut ambil bagian kolaborasi untuk kegiatan sadar zakat.

 

Lucunya lagi, banyak yang masih mengira zakat itu opsional, kayak pilihan lauk di warung makan. Padahal posisinya satu paket sama shalat. Mau di-skip? Silakan, tapi status “muslim taat” bisa-bisa ikut ter-skip juga.

 

Jadi kalau ada yang masih ngeyel bilang, “Ini hasil keringatku, kenapa harus dikasih keluar?” jawabannya gampang: coba tanya lagi, siapa yang kasih nafas buat kerja? Siapa yang jaga mata biar bisa lihat peluang? Kalau semua diklaim “hasil sendiri,” jangan kaget kalau tiba-tiba dompet ikut puasa tanpa sahur.

 

“Kalau zakat itu kewajiban Baznas, boleh taat atau abaikan, tapi zakat ini kewajiban Allah Swt, tidak ada pilihan lain melaikan taat,” tegasnya.

 

Singkat kata, zakat bukan proyek jalan yang bisa ditunda-tunda karena ganti pejabat. Ini kewajiban permanen, kontraknya langsung dengan Allah. Dan kalau tripika sampai ngomong soal ini di forum resmi, itu tandanya bukan cuma para ustadz yang sudah prihatin, tapi juga aparat ikut gelisah.

 

Nah, sekarang tinggal kita pilih: mau ikut barisan muzakki yang hartanya jadi berkah, atau tetap nyaman di kursi empuk tapi diam-diam makan rezeki haram? Ingat, kata H. Kardi, “Cepat atau lambat, kalau tidak berzakat, tamatlah diri ini.”


×
Berita Terbaru Update