Oleh: Abd. Halim Amsur
(Penyuluh Zakat/Sekretaris UPZ Kecamatan Bontobahari)
Kalau biasanya tripika kumpul, yang dibahas itu soal jalan berlubang, gedung mangkrak, atau rencana jangka menengah yang tidak diketahui kapan terealisasi. Tapi kali ini agak beda, lebih seru, lebih pedas, dan jujur saja lebih “nyentil.”
Bayangkan saja, selepas makan siang nasi kebuli
(racikan ibu-ibu dapur Al Mutahabbun), pada Selasa, 23 September 2025. Mulai Camat, Kapolsek, Kepala KUA, Perwakilan
Danramil, ustadz, sampai penyuluh agama duduk di Gazebo milik Ponpes. Dan
topiknya bukan proyek miliaran, tapi zakat. Yes, zakat! Yang cuma 2,5 persen
dari harta, tapi sering lebih susah keluar daripada izin bangun rumah.
Nah, di sinilah biasanya orang kaya mulai keringat dingin. Sebab, yang
diminta bukan proposal, tapi kejujuran isi rekening.
H. Kardi malah lebih “to the point.” Katanya, banyak orang lebih rela bohong daripada jujur soal harta. Padahal,
zakat itu bukan minta-minta, tapi perintah langsung. Bahasa kasarnya: jangan
sok sayang sama harta, karena kalau tidak dizakatkan, haram dimakan. “Mungkin
itu juga sumber penyakit yang tak kunjung sembuh, atau segala yang tidak
dikehendaki kian datang silih berganti” katanya. Nyelekit, kan?
Kadang orang mengira zakat itu urusannya Baznas. Seolah-olah kalau ada
waktu, taatlah; kalau lagi malas, abaikan pun tak apa. Padahal, kata H. Kardi,
logika itu keliru besar. Zakat bukan program lembaga, tapi perintah Allah. Dan
kalau sudah perintah Allah, statusnya bukan “opsi”, melainkan “wajib”, rukun
Islam, titik.
Nah, kalau ada yang masih nekat mengabaikan,
silakan tanggung risiko. Allah itu tidak butuh izin untuk menagih. Kata beliau,
kalau Allah sudah turun tangan, bukan lagi sekadar 2,5 persen. Bisa sekalian
harta pokok, bisa kesehatan, bisa juga rasa tenangmu. Intinya: suka-suka Allah.
Jadi, mau tunggu “auto-debet” dari Allah, atau
bayar zakat dengan ikhlas sebelum ditagih langsung oleh Pemilik semesta?
Kapolsek yang baru empat bulan duduk manis di
Bontobahari juga tidak mau kalah. Dengan santai ia bilang siap dihitungin
asetnya biar “bersih nan suci.” Nah loh, kalau Kapolsek saja terbuka, masak
pengusaha yang duitnya berlapis-lapis masih pura-pura tidak ngerti nisab?
Tapi memang begitu kenyataannya. KUA Bontobahari H. Amri Syam mengaku,
ketika beberapa orang kaya, para pengurus UPZ se Bontobahari diundang hadir ke
maulid plus ceramah Baznas pada Jumat 12 September 2025 lalu, hasilnya… yah, belum
menggembirakan dan zakat yang terkumpul jalannya kayak keong.
Lebih serius dan menantang, Kapolsek dan
Camat, ikut ambil bagian kolaborasi untuk kegiatan sadar zakat.
Lucunya lagi, banyak yang masih mengira zakat itu opsional, kayak pilihan
lauk di warung makan. Padahal posisinya satu paket sama shalat. Mau di-skip?
Silakan, tapi status “muslim taat” bisa-bisa ikut ter-skip juga.
Jadi kalau ada yang masih ngeyel bilang, “Ini
hasil keringatku, kenapa harus dikasih keluar?” jawabannya gampang: coba tanya
lagi, siapa yang kasih nafas buat kerja? Siapa yang jaga mata biar bisa lihat
peluang? Kalau semua diklaim “hasil sendiri,” jangan kaget kalau tiba-tiba
dompet ikut puasa tanpa sahur.
“Kalau zakat itu kewajiban Baznas, boleh taat atau abaikan, tapi zakat ini
kewajiban Allah Swt, tidak ada pilihan lain melaikan taat,” tegasnya.
Singkat kata, zakat bukan proyek jalan yang
bisa ditunda-tunda karena ganti pejabat. Ini kewajiban permanen, kontraknya
langsung dengan Allah. Dan kalau tripika sampai ngomong soal ini di forum
resmi, itu tandanya bukan cuma para ustadz yang sudah prihatin, tapi juga
aparat ikut gelisah.
Nah, sekarang tinggal kita pilih: mau ikut barisan muzakki yang hartanya jadi berkah, atau tetap nyaman di kursi empuk tapi diam-diam makan rezeki haram? Ingat, kata H. Kardi, “Cepat atau lambat, kalau tidak berzakat, tamatlah diri ini.”


.png)
