Kegiatan strategis ini dihadiri oleh jajaran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kementerian Pertanian, Pemerintah Desa Mattoanging, perwakilan sektor swasta dari PT Tritama Wirakarsa dan PT Kudeungo Sugata Indonesia, serta para petani kakao setempat yang antusias mengikuti program pengembangan budidaya ini.
Sekolah Lapang dirancang sebagai sarana pembelajaran berbasis praktik lapangan dan diskusi interaktif. Program ini menjadi wadah bagi para petani untuk memperdalam pengetahuan teknis serta mengasah keterampilan dalam pengelolaan kebun kakao yang berkelanjutan dan berstandar industri.
Strategi Peningkatan Kapasitas SDM
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kajang, Nanno, S.P., dalam sambutannya saat membuka kegiatan secara resmi, menekankan peran vital komoditas kakao terhadap perekonomian daerah. Menurutnya, modernisasi pertanian harus dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tingkat petani.
"Peningkatan kualitas SDM melalui Sekolah Lapang adalah langkah strategis. Kami ingin mencetak petani yang tidak hanya mandiri dan produktif, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan budidaya kakao di era modern saat ini," ujar Nanno.
Kurikulum Pembelajaran Intensif
Selama program berlangsung, para peserta akan mengikuti rangkaian pembelajaran intensif yang berfokus pada efisiensi produksi dan peningkatan kualitas hasil panen. Materi yang akan diberikan meliputi:
- Teknik Budidaya: Penerapan standar budidaya kakao yang baik dan benar (Good Agricultural Practices).
- Pemeliharaan: Teknik pemangkasan pohon yang efektif untuk optimasi pertumbuhan.
- Manajemen Nutrisi: Sistem pemupukan yang tepat sasaran dan efisien.
- Perlindungan Tanaman: Strategi terpadu dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman (PHT).
- Pascapenen: Penanganan hasil panen untuk menjamin kualitas biji kakao di pasar global.
Sinergi Multi-Pihak
Program ini diharapkan menjadi katalisator kolaborasi yang lebih erat antara petani, penyuluh, pemerintah, dan pihak swasta dalam membangun ekosistem kakao yang berdaya saing tinggi.
Senada dengan hal tersebut, Ketua P4S Pallawa Tani, Riswandi, menegaskan bahwa Sekolah Lapang ini merupakan investasi sosial bagi masa depan pertanian di Desa Mattoanging.
"Sekolah Lapang Kakao bukan sekadar tempat belajar, tetapi menjadi wadah bagi petani untuk berbagi pengalaman, meningkatkan keterampilan, dan bersama-sama membangun masa depan komoditas kakao yang lebih maju dan kompetitif," pungkas Riswandi.
Kegiatan pembukaan diakhiri dengan diskusi mendalam mengenai pemetaan potensi pengembangan lahan kakao serta pemecahan masalah teknis yang selama ini dihadapi petani di lapangan, yang disambut dengan antusiasme tinggi dari para peserta.

