Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Panggungnya Bukan di Tanah Leluhur, Silaturahmi Muna Dicurigai Jadi Ajang Pencitraan hingga Konsolidasi Politik Terselubung

Minggu, 12 Juli 2026 | 07.45 WIB Last Updated 2026-07-12T00:45:03Z

Gambar : Pengurus Laskar Semut Merah di Kota Kendari. (Foto/Ist).



KENDARI__SIMPULINDONESIA.COM,— Aroma kepentingan politik mulai tercium di balik pelaksanaan Silaturahmi Akbar Masyarakat Muna yang digelar oleh Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) di Kota Kendari. Minggu (12/07/2026).


Kegiatan yang diklaim sebagai ajang pelestarian budaya itu kini justru menuai kritik tajam dan kecurigaan publik.


Ketua Dewan Pembina Lembaga Laskar Semut Merah Kota Kendari, Jaya, SE, secara terbuka mempertanyakan kejanggalan lokasi kegiatan yang tidak dilaksanakan di Pulau Muna tanah kelahiran sejarah dan identitas masyarakat Muna.


“Ini bukan sekadar soal lokasi. Ini soal makna. Jika benar ini agenda budaya, mengapa tidak dilaksanakan di tanah asal budaya itu hidup dan berkembang?” tegas Jaya.


Menurutnya, pemindahan kegiatan ke Kendari bukan hanya mengaburkan nilai historis dan kultural, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar, apakah ini benar-benar kegiatan budaya, atau sekadar panggung lain yang dibungkus rapi?


Sorotan semakin tajam ketika publik mengaitkan kegiatan ini dengan posisi strategis Ketua KKMM yang juga menjabat sebagai Bupati Muna Barat sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Tenggara. 


Kombinasi jabatan ini dinilai membuka ruang tafsir liar di tengah masyarakat.


“Publik tidak bodoh. Ketika kegiatan budaya dipusatkan di luar wilayah asal, lalu diinisiasi oleh figur politik aktif, wajar jika muncul dugaan bahwa ini adalah bagian dari konsolidasi kekuatan menjelang kontestasi politik,” ujar Jaya.


Ia menegaskan, kritik yang muncul bukan tanpa dasar. Ada kegelisahan yang nyata bahwa budaya sedang digeser dari fungsi sakralnya menjadi alat legitimasi politik.


“Budaya tidak boleh diperalat. Ketika budaya dijadikan kendaraan politik, maka yang rusak bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga marwah kebudayaan itu sendiri,” tegasnya.


Tak hanya itu, rencana menghadirkan artis dalam kegiatan tersebut juga menuai sorotan keras. 


Laskar Semut Merah menilai langkah ini justru memperkuat kesan bahwa kegiatan tersebut lebih condong ke arah hiburan populis ketimbang pelestarian nilai budaya.


Ali Sabarno, perwakilan Laskar Semut Merah, menyebut langkah tersebut sebagai bentuk ketidaksensitifan terhadap kondisi riil masyarakat Muna Barat.


“Di saat jalan menuju rumah sakit rusak parah, ekonomi masyarakat tertekan, harga kebutuhan pokok tinggi yang ditampilkan justru hiburan. Ini ironi,” katanya.


Ia mengungkapkan, masyarakat Muna Barat hingga kini masih bergelut dengan persoalan infrastruktur dasar yang belum terselesaikan. 


Akses jalan yang rusak, minimnya perhatian terhadap sektor pertanian dan perikanan, hingga daya beli masyarakat yang terus tergerus menjadi realitas yang tak terbantahkan.


“Prioritasnya jelas, perbaiki jalan, stabilkan harga, tingkatkan kesejahteraan. Bukan malah menggelar acara yang berpotensi menjadi panggung pencitraan,” tambahnya.


Di tengah derasnya kritik, Laskar Semut Merah mendesak agar kegiatan tersebut dipindahkan ke Pulau Muna. 


Selain mengembalikan esensi budaya ke akar historisnya, langkah itu dinilai mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.


“Kalau benar untuk budaya, bawa pulang ke Muna. Jangan jadikan budaya sebagai etalase politik di kota lain,” tutup Jaya.


Sampai berita ini ditayangkan Tim SIMPULINDONESIA.COM masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait.


×
Berita Terbaru Update