Pemerhati sepak bola Bulukumba, Iswanto, menyatakan keheranannya atas situasi yang terus berulang ini. Menurutnya, kegagalan mengirimkan delegasi dalam kompetisi resmi PSSI merupakan indikator lemahnya manajemen pembinaan usia dini di tingkat daerah.
"Ini bukan kali pertama Bulukumba absen. Padahal, kita memiliki talenta-talenta muda yang sangat potensial. Publik tentu bertanya-tanya, ada apa dengan manajemen PSSI Bulukumba sehingga ajang sepenting Piala Soeratin kembali dilewatkan?" ujar Iswanto saat ditemui di Bulukumba, Sabtu (20/06/2026).
Iswanto menekankan bahwa Piala Soeratin bukan sekadar kompetisi, melainkan instrumen krusial bagi jenjang karier pemain muda. Absennya Bulukumba, menurutnya, menjadi kerugian besar karena memutus jalur pengembangan bibit pesepak bola lokal untuk bersaing di level regional hingga nasional.
Lebih lanjut, Iswanto mendesak jajaran pengurus PSSI Bulukumba untuk bersikap transparan kepada publik. Ia berharap federasi memberikan penjelasan terbuka mengenai kendala yang dihadapi, baik dari aspek administrasi, dukungan pendanaan, maupun kesiapan teknis klub.
"Masyarakat pecinta sepak bola berhak tahu alasan di balik ketidakhadiran ini. Apakah karena kendala administratif, minimnya anggaran, atau memang tidak adanya kesiapan dari klub-klub anggota? Transparansi penting agar kegagalan ini tidak terulang di masa depan," tegasnya.
Sebagai informasi, Piala Soeratin merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh PSSI melalui Asosiasi Provinsi (Asprov) sebagai wadah utama pembinaan pemain muda berbakat di Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PSSI Bulukumba belum memberikan keterangan resmi atau tanggapan terkait alasan absennya perwakilan daerah tersebut pada Piala Soeratin U-15 musim 2026. Para pegiat sepak bola daerah berharap, insiden ini menjadi bahan evaluasi serius bagi federasi agar ke depannya Bulukumba dapat kembali berpartisipasi dan menunjukkan taringnya di kancah sepak bola nasional.

