Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Proyek Kopdes Merah Putih di Kajang Disorot: Keselamatan Warga Terancam, Pernyataan Babinsa Dinilai Minim Empati

Minggu, 10 Mei 2026 | 10.04 WIB Last Updated 2026-05-10T03:04:17Z


SIMPULINDONESIA.com_ BULUKUMBA – Proyek pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa Sangkala, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, kini menuai kecaman keras dari masyarakat. Aktivitas penggalian lahan yang menggunakan alat berat jenis ekskavator tersebut dituding mengabaikan keselamatan publik karena menyisakan tumpukan tanah yang meluber ke jalan poros provinsi.

​Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa material tanah galian terbawa keluar hingga menutupi badan jalan. Kondisi ini mengubah aspal menjadi licin dan berlumpur layaknya jalan tani, terutama saat diguyur hujan. Akibatnya, rentetan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara sepeda motor terus terjadi, namun hingga kini belum ada upaya serius dari penanggung jawab proyek untuk melakukan pembersihan.

​Keresahan Warga Meluap di Ruang Digital

​Kekhawatiran ini tidak hanya dirasakan di lokasi, tetapi juga menjadi bola panas di berbagai platform digital. Di grup-grup WhatsApp warga, keluhan demi keluhan terus bermunculan. Tak sedikit pengguna jalan yang mengaku waswas dan merasa nyawanya terancam setiap kali melintasi jalur tersebut.

​Salah satu anggota grup menceritakan pengalaman mengerikannya saat melintas menggunakan kendaraan roda empat. Ia mengaku mobilnya sempat tergelincir akibat material tanah yang licin.

​"Ban mobil saya sampai selip dan kendaraan hampir terputar balik di tengah jalan. Ini sangat membahayakan, apalagi kalau malam hari," ungkapnya dalam obrolan grup yang viral.


​Sentimen negatif warga kian menguat menanggapi lambannya respons pihak terkait. Seorang warga lain memberikan komentar menohok yang mengingatkan akan asas hukum mendasar.

"Salus Populi Suprema Lex Esto—Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Ini yang terkadang dikesampingkan oleh sebagian orang atau kelompok yang punya kepentingan. Ingat, ini adalah jalan provinsi, akses publik, bukan jalan pribadi!" tegasnya dalam salah satu komentar media sosial.


​Kritik Pedas Aktivis: Nyawa Pengguna Jalan Bukan Taruhan

​Aktivis lokal, Suandi Bali, mengecam keras ketidaksadaran pihak pengelola terhadap dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan. Menurutnya, pembiaran ini merupakan bentuk kelalaian yang nyata.

​"Hampir setiap hari ada warga yang mengadu. Ini menyangkut keselamatan nyawa, apalagi saat malam hari kondisi jalan di sini sangat gelap dan sepi. Sangat disayangkan jika pembangunan yang tujuannya untuk kesejahteraan justru mencelakai rakyat sendiri," tegas Suandi Bali.

​Pernyataan Kontroversial Pihak Pengawas

​Saat dikonfirmasi melalui rekaman audio yang diperoleh, Bhabinsa Desa Sangkala, Sertu Muh Yusuf, yang bertugas melakukan pengawasan atas perintah atasan, mengakui adanya insiden kecelakaan di lokasi tersebut. Namun, pernyataannya dinilai kurang menunjukkan rasa empati kepada para korban.

​"Memang sering ada yang jatuh di situ, termasuk anak-anak sekolah. Saya sering sampaikan pelan-pelan Dek, tapi tetap saja mereka gas pol. Namanya anak sekolah, kadang tidak mengindahkan peringatan kami," ujar Sertu Muh Yusuf saat dihubungi via telepon.

​Mirisnya, saat ditanya mengenai upaya pencegahan—seperti pemasangan rambu peringatan 50 meter sebelum lokasi atau pembersihan sisa tanah secara rutin—Sertu Muh Yusuf menegaskan bahwa fokus utamanya adalah mengejar target waktu pembangunan.

​"Saya diperintahkan atasan untuk mengawasi. Ada tuntutan terkait waktu. Tidak mungkin saya mau bersihkan (setiap saat), yang jelas kami kerja sesuai perintah atasan," tambahnya dengan nada tegas.

​Ironi Program Strategis Nasional

​Pembangunan Kopdes Merah Putih sejatinya merupakan program strategis Presiden Republik Indonesia yang bertujuan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan kedaulatan pangan. Namun, pelaksanaan di lapangan yang serampangan dinilai mencederai cita-cita mulia tersebut.

​Sangat ironis jika program yang dicanangkan untuk membantu rakyat, justru dilaksanakan dengan manajemen teknis yang buruk hingga membahayakan keselamatan warga.

​Desakan Kepada Pihak Berwenang

​Masyarakat meminta kepada Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, serta pihak TNI untuk segera mengevaluasi jalannya proyek ini. Beberapa poin desakan warga antara lain:

  • Kepada Penanggung Jawab Proyek: Segera lakukan pembersihan rutin pada badan jalan agar material tanah tidak membahayakan.
  • Kepada Dinas Perhubungan: Pasang rambu peringatan yang memadai dan penerangan di sekitar area penggalian.
  • Kepada Instansi Terkait: Memberikan edukasi kepada personel pengawas agar tetap menempatkan keselamatan masyarakat di atas target fisik semata.

​Pembangunan memang penting bagi kemajuan daerah, namun jangan sampai fisik bangunan berdiri megah di atas duka dan kecelakaan masyarakat kecil


×
Berita Terbaru Update