Kali ini, pihak Lapas Kelas IIA Pangkalpinang berhasil memanen sebanyak 30 kilogram Melon Madu dari 10 batang tanamanan yang dibudidayakan dari lahan yang hanya seluas 12 meter persegi (M³), Kamis (30/4/2026).
Keberhasilan capaian ini tak lepas dari hasil uji coba perdana penggunaan Pupuk Bokashi yang dihasilkan dari pengelolaan limbah organik internal Lapas Kelas IIA Tuatunu Pangkalpinang.
Setidaknya, keberhasilan panen ini menjadi langkah awal yang menjanjikan dalam pengembangan program pembinaan kemandirian berbasis pertanian.
Sekaligus menunjukkan efektivitas dalam pemanfaatan limbah menjadi produk yang bernilai guna dan berkemungkinan nanti bisa mampu bersaing di pasaran.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Pangkalpinang, Mulsa Afrianto kepada SimpulIndonesia.com menyebutkan bahwa hasil panen tersebut mencerminkan upaya optimal dalam membangun budaya kerja yang produktif, mandiri, dan berwawasan lingkungan.
Mulsa Afrianto menyatakan dengan keberhasilan panen sebanyak 30 kilogram Melon Madu ini menjadi bukti nyata bahwasanya limbah yang di kelola dengan baik dapat memberikan nilai manfaat yang besar.
Sekaligus, menjadi sarana pembelajaran keterampilan bagi Warga Binaan di Lapas Kelas IIA Tuatunu Pangkalpinang.
“Alhamdulillah, kita berhasil panen 30 kilogram Melon Madu ini di lahan yang hanya seluas 12 Meter persegi. Ini tak lepas dari pemanfaatan limbah menjadi produk Pupuk Bokashi, yang kami gunakan," tukas Mulsa Afrianto dengan mimik wajah gembira.
Ia menambahkan semoga untuk kedepannya nanti dapat memanfaatkan lahan yang ada untuk penanaman Melon Madu serta jenis tanaman yang lain, serta dapat menghasilkan hasil panen yang lebih banyak lagi.
Sementara itu, masih dalam lingkungan Lapas Kelas IIA Tuatunu Pangkalpinang Kepala Subseksi Pengelolaan Hasil Kerja dan Bimbingan Kerja, Eko Cahyono, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada hasil, akan tetapi juga pada proses pembelajaran.
Dimana, lanjutnya bahwa warga Binaan mendapatkan pengalaman langsung mulai dari pengelolaan limbah organik, pembuatan Pupuk Bokashi, hingga teknik budidaya hortikultura.
"Proses pembelajaran ini menjadi bekal keterampilan dan bermanfaat saat mereka kembali ke masyarakat,” papar Eko Cahyono.
Dari data yang diperoleh bahwa seluruh proses budidaya dilakukan dengan memanfaatkan pupuk organik hasil pengolahan internal.
Mulai dari pengelolaan limbah, pembuatan Pupuk Bokashi, hingga penanaman dan panen.
Inovasi ini menjadi bukti nyata upaya Lapas Pangkalpinang dalam mengembangkan pembinaan yang produktif dan ramah lingkungan.
Keberhasilan panen melon madu ini diharapkan menjadi pijakan awal untuk pengembangan pertanian berkelanjutan, peningkatan keterampilan Warga Binaan, serta penguatan program ketahanan pangan di lingkungan Lapas. (Aimy).
