SIMPULINDONESIA.com_BULUKUMBA — Kabupaten Bulukumba kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar). Sebanyak 10 siswa perwakilan Bulukumba berhasil meraih penghargaan di berbagai cabang lomba, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa generasi muda Bulukumba memiliki potensi besar dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan bahasa serta budaya daerah. Melalui kemampuan berpidato, mendongeng, menulis cerita pendek, hingga komedi tunggal, para peserta tampil menunjukkan kreativitas dan kecintaan terhadap bahasa ibu.
Ketua Kontingen Kabupaten Bulukumba, Nuhriadi, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian seluruh peserta. Menurutnya, prestasi ini merupakan buah dari kerja keras para siswa, pembinaan yang berkelanjutan, serta dukungan para guru, sekolah, dan orang tua.
Berikut daftar siswa peraih prestasi yang telah mengharumkan nama Kabupaten Bulukumba:
JENJANG SEKOLAH DASAR (SD)
- Juara II Pidato Bahasa Makassar (Putra): Helmi Ahdam Al Hamidi (SDN 235 Borong Rappoa).
- Juara II Mendongeng Bahasa Bugis (Putra): Andi Achmad Ali Fawwas (SDN 2 Terang-Terang).
- Juara II Pidato Bahasa Bugis (Putri): Nur Aisyah Masri (SDN 33 Barabba).
- Juara II Menulis Cerpen (Putri): Fahira Najwa Salsabila (SDN 203 Bontomacinna).
- Juara II Komedi Tunggal (Putri): Nurul Natasya (SDN 57 Oro).
JENJANG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
- Juara I Pidato (Putri): Aulia Izzatunisa (SMPN 2 Bulukumba).
- Juara I Menulis Cerpen (Putri): Asyila Faiha (SMPN 42 Bulukumba).
- Juara III Pidato (Putra): Afiq Abian Kansa (SMPN 38 Bulukumba).
- Juara III Mendongeng (Putra): Abidzar Athalah Basri (SMPN 14 Bulukumba).
- Juara III Komedi Tunggal (Putri): Nurul Dwi Atifa (SMPN 2 Bulukumba).
“Prestasi ini bukan sekadar capaian dalam sebuah perlombaan, melainkan juga bagian dari ikhtiar menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Bahasa ibu bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas, nilai, dan kekayaan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Nuhriadi, S.Pd.
Ia mengapresiasi setinggi-tingginya disampaikan kepada seluruh peserta, para pembina, guru, pihak sekolah, serta orang tua yang telah memberikan dukungan dan pendampingan.


