Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Anak Sekolah ‘Jatuh Bangun’ di Jalan Rusak, Pemerintah Daerah Sibuk Rayakan Hari Jadi

Senin, 27 April 2026 | 18.06 WIB Last Updated 2026-04-27T11:14:05Z
Gambar : Kondisi jalan di Kecamatan Lalembuu Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara saat dilintasi anak sekolah.


KONAWE SELATAN__SIMPULINDONESIA.COM,— Di tengah gegap gempita persiapan Hari Ulang Tahun ke-23 Kabupaten Konawe Selatan yang disebut akan digelar meriah dengan anggaran tidak sedikit, realitas berbeda justru tersaji di pelosok Kecamatan Lalembuu. Senin (27/04/2026).


Akses jalan yang menjadi urat nadi pendidikan bagi ratusan pelajar di wilayah tersebut berada dalam kondisi memprihatinkan rusak parah, berlumpur, licin, dan penuh lubang yang membahayakan keselamatan.


Jalur ini bukan sekadar jalan desa biasa. Ia merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan sejumlah sekolah, mulai dari SMAN 12 Konawe Selatan, SMPN 16 Konawe Selatan, SMKN 4 Konawe Selatan, hingga lembaga pendidikan berbasis keagamaan seperti MA Annur, MTs Annur, dan MA Al-Barkah.


Setiap hari, para siswa terpaksa mempertaruhkan keselamatan demi menempuh pendidikan. Tidak ada jalur alternatif. 


Dalam kondisi hujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.


Beberapa siswa yang ditemui mengaku kerap terjatuh saat berangkat ke sekolah. Orang tua pun diliputi kekhawatiran, namun tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan anak-anak mereka tetap melintas di jalur tersebut.


“Kalau hujan, sangat berbahaya. Tapi mau bagaimana lagi, itu satu-satunya jalan,”Ujar Rijal salah satu pemuda Lalembuu.


Temuan ini memperlihatkan kontras tajam antara prioritas pembangunan dan kebutuhan dasar masyarakat. 


Di satu sisi, pemerintah daerah tengah mempersiapkan perayaan hari jadi dengan skala besar. 


Di sisi lain, akses fundamental seperti infrastruktur pendidikan justru terabaikan.


Sejumlah elemen pemuda di Lalembuu turut menyuarakan kekecewaan. Mereka menilai pemerintah daerah gagal membaca urgensi di lapangan.


Salah satu perwakilan pemuda bahkan secara terbuka menyatakan sikap simbolik, menolak memberikan ucapan selamat atas perayaan hari jadi daerah sebagai bentuk protes terhadap kondisi tersebut.


“Ini bukan soal perayaan. Ini soal anak-anak yang setiap hari mempertaruhkan nyawa hanya untuk sekolah,” tegasnya.


Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar, ke mana arah prioritas pembangunan daerah? 


Ketika akses pendidikan saja belum terjamin aman, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan, melainkan masa depan generasi.


Sampai berita ini ditayangkan Tim SIMPULINDONESIA.COM masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait. 

×
Berita Terbaru Update