Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengonfirmasi bahwa pertemuan krusial ini akan dipusatkan di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.
Mekanisme Transparan dan Ilmiah
Sidang Isbat merupakan forum resmi pemerintah yang menggabungkan pendekatan sains (astronomi) dan hukum syariat. Abu Rokhmad menegaskan bahwa proses penentuan awal Syawal dilakukan secara terbuka dan akuntabel.
"Lokasi sidang dipilih karena kapasitasnya yang memadai untuk menampung para undangan serta kemudahan aksesibilitas," ujar Abu Rokhmad dalam keterangannya.
Agenda sidang akan dihadiri oleh berbagai pakar dan perwakilan instansi kompeten, di antaranya:
- Perwakilan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam.
- Pakar astronomi dan falak.
- Tim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
- Perwakilan observatorium dan lembaga terkait lainnya.
Kolaborasi Metode Hisab dan Rukyat
Pemerintah Indonesia tetap konsisten menggunakan dua metode utama dalam menentukan awal bulan Hijriah:
- Hisab: Perhitungan matematis dan astronomis untuk mengetahui posisi hilal.
- Rukyatul Hilal: Verifikasi lapangan melalui pengamatan langsung terhadap bulan sabit muda di berbagai titik di seluruh Indonesia.
Setelah menerima laporan rukyat dari berbagai provinsi, data tersebut akan diverifikasi dan dibahas dalam sidang tertutup bersama para ulama. Hasil akhir kemudian akan diumumkan secara resmi oleh Menteri Agama melalui konferensi pers.
Prediksi Astronomi dan Potensi Perbedaan Tanggal
Berdasarkan data astronomi sementara, BMKG memprediksi 1 Syawal 1447 H berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Prediksi ini mengacu pada kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Jika pada hari pengamatan posisi hilal belum memenuhi kriteria tersebut, maka bulan Ramadhan akan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Di sisi lain, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini didasarkan pada Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 dengan menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal serta konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Meski terdapat potensi perbedaan tanggal, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap menunggu hasil resmi Sidang Isbat sebagai panduan bersama dalam merayakan hari kemenangan. (Red-msi)
