Hal itu terlihat pada semifinal pertama yang berlangsung Sabtu (3/10/2026). Laga tersebut turut disaksikan langsung Departemen Kompetisi (Exco Bidang Kompetisi) PSSI Bulukumba, Yasis Hendry.
Di tengah persaingan menuju partai puncak, perhatian yasis justru tertuju pada potensi besar yang dimiliki pemain-pemain muda dari Bulukumba, Bantaeng, dan Sinjai.
Yasis memberikan apresiasi kepada penyelenggara yang mampu menjaga keberlangsungan LPI Zona Bulukumba selama empat musim berturut-turut. Konsistensi tersebut dinilai penting karena kompetisi yang berkelanjutan memberi pemain usia pelajar kesempatan untuk terus bertanding, berkembang, dan menguji kemampuan.
“Apresiasi kepada pihak penyelenggara yang konsisten melaksanakan Liga Pelajar Indonesia Zona Bulukumba selama empat musim berturut-turut. Sekarang sudah menggunakan format Wilayah V yang mencakup Bantaeng, Bulukumba dan Sinjai,” ujar Yasis.
Bagi Yasis, keberadaan kompetisi pelajar tidak semata-mata tentang siapa yang menjadi juara. Lebih jauh, LPI diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi pemain muda sekaligus menjadi bagian dari mata rantai pembinaan sepak bola daerah.
Dengan format Wilayah V, persaingan pun semakin terbuka. Pemain-pemain muda dari tiga kabupaten memiliki kesempatan untuk saling berhadapan, mengukur kualitas, sekaligus mendapatkan pengalaman bertanding yang lebih kompetitif.
“Harapannya, kegiatan ini terus berkembang dan bisa melahirkan pesepakbola muda berprestasi dari Bulukumba, Bantaeng dan Sinjai,” kata yasis.
Dari Lapangan Sekolah, Menatap Sepak Bola Prestasi
Keberlanjutan LPI menjadi penting karena pembinaan pemain muda membutuhkan kompetisi yang tidak berhenti pada satu musim.
Semakin banyak pertandingan, semakin besar pula ruang bagi pemain untuk membangun pengalaman, mental bertanding, disiplin, dan kemampuan membaca permainan.
Karena itu, semifinal LPI Wilayah V bukan hanya tentang siapa yang lolos ke final. Di balik perebutan tiket menuju partai puncak, ada misi yang jauh lebih panjang: menyiapkan generasi pesepakbola muda Sulawesi Selatan untuk level kompetisi yang lebih tinggi.
Empat musim konsisten digelar. Tiga kabupaten kini berada dalam satu wilayah kompetisi. Dari sinilah proses regenerasi itu terus dibangun—dari lapangan pelajar, menuju panggung sepak bola prestasi.

