Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Resmi Dibuka! Wisata Alam dan Budaya "Mannanro Nakku Vol. 1" di Bulukumba Gelorakan Pelestarian Lingkungan dan Tradisi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 11.18 WIB Last Updated 2026-07-25T07:44:05Z


SIMPULINDONESIA.com_BULUKUMBA — Mahasiswa Pemerhati Alam dan Seni Budaya Kajang (MAPASKA) secara resmi menggelar event perdana bertajuk Wisata Alam dan Budaya "Mannanro Nakku Vol. 1". Perhelatan akbar ini dipusatkan di Pantai ujung Cinta, Desa Lolisang, Kecamatan Kajang, pada Sabtu, 25 Juli 2026.

​Acara pembukaan berlangsung khidmat dan meriah, ditandai dengan pemukulan gong secara resmi oleh Kepala Desa Lolisang.

​Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Desa Lolisang, Kapolsek Kajang beserta wakapolsek dan jajaran personel termasuk Kanit Intelkam, pengurus serta pembina OSIS dan PMR dari sejumlah SMA di Kajang, pembina Sanggar Seni Budaya Turiolo Kajang, serta Kepala Desa Pantama dan masyarakat setempat.

​Rangkaian Pembukaan Sarat Makna dan Semangat Lestari

​Acara diawali dengan penyambutan peserta dan tamu undangan melalui persembahan tarian tradisional Tari Tope Lelleng dari Sanggar Seni Budaya Turuntung Kajang (SSBTK), dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

​Dalam laporannya, Ketua Panitia Reski menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak dan sponsor yang telah berkolaborasi menyukseskan acara. Ia juga memaparkan berbagai agenda strategis yang akan berlangsung, seraya membakar semangat peserta melalui pekikan khas: "Salam Lestari, Salam Budaya!"

​Sementara itu, Ketua Umum MAPASKA, Awaludin Nur, menjelaskan bahwa frasa "Mannanro Nakku" memiliki arti mendalam, yaitu "Menitip Kerinduan". Senada dengan hal tersebut, Dewan Senior MAPASKA, Reskianto, mengungkapkan bahwa MAPASKA merupakan wadah organisasi yang memiliki visi besar bagi kelestarian alam dan budaya. Sebagai bukti nyata, MAPASKA sebelumnya juga telah merealisasikan penanaman 4.000 pohon mangrove di kawasan Pantama.

​Apresiasi dari Tokoh dan Pemerintah Setempat

​Dukungan penuh turut disuarakan oleh aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Kapolsek Kajang, Iptu A. Umar Nur, S.Pd, menyatakan rasa bangga terhadap kepedulian generasi muda MAPASKA. Ia berpesan agar para pemuda terus melakukan edukasi pelestarian alam serta konsisten mempertahankan adat dan budaya lokal di tengah masyarakat.

"Laksanakan kegiatan dengan baik dan penuh tanggung jawab, yang terpenting tetap jaga keamanan dan ketertiban bersama," pesan Iptu A. Umar Nur.


​Apresiasi serupa disampaikan oleh Kepala Desa Lolisang, Muh. Amir, S.H. Selaku tuan rumah, ia menyambut baik pemilihan Desa Lolisang sebagai lokasi kegiatan yang dirangkaikan dengan aksi penanaman mangrove di wilayah pesisir.

​Muh. Amir menafsirkan tema Mannanro Nakku sebagai sebuah filosofi bahwa setiap orang yang berkunjung ke tanah Kajang akan menyimpan kerinduan untuk kembali. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat serta pemerintah daerah untuk bersinergi penuh demi menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan mahasiswa tersebut.

​Agenda Utama "Mannanro Nakku Vol. 1"

​Event ini dirancang secara komprehensif melalui tiga pilar utama kegiatan:

  • Panggung Seni dan Sastra: Mengangkat tema "Membaca Polemik Budaya Dalam Realitas Masyarakat" melalui sesi Bincang Sastra, pameran artefak tradisional, pakaian adat, infografis sejarah, hingga dokumentasi fotografi. Panggung seni juga dimeriahkan oleh pertunjukan Tari Pabbitte Passapu, Sinrilik, A'basing, dan Rupama.
  • Aksi Lingkungan: Aksi nyata konservasi berupa penanaman 1.000 bibit mangrove di sepanjang pesisir Pantai Ujung Cinta, serta aksi bersih-bersih lingkungan (Clean Up) di Kawasan Adat Kajang.
  • Edukreasi: Pelatihan Single Rope Technique (SRT) bagi pemula serta ruang nostalgia melalui pelestarian permainan tradisional (Akkarena) seperti Donggak, Cangkong, Galacang, dan Asing-asing.

​Penggerak Pariwisata Berbasis Konservasi

​Lebih dari sekadar ajang pertemuan komunitas, penyelenggaraan "Mannanro Nakku Vol. 1" diproyeksikan menjadi katalisator penting dalam memajukan sektor pariwisata Kabupaten Bulukumba yang berbasis kearifan lokal, pelestarian budaya, dan pariwisata hijau yang berkelanjutan.

Hingga saat ini, seluruh rangkaian kegiatan masih berlangsung hingga 26 Juli 2026.(Red-Msi)
×
Berita Terbaru Update