Kegiatan yang berlangsung hari ini merupakan outing class jilid ketiga yang diselenggarakan oleh pihak pesantren. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kekayaan nilai sejarah serta tradisi lokal yang masih dijaga kuat oleh masyarakat setempat.
Menelusuri Akar Sejarah Tradisi Je'ne-Je'ne Sappara
Tradisi Je'ne-Je'ne Sappara merupakan warisan budaya yang secara turun-temurun dilestarikan oleh sebagian masyarakat di wilayah dataran tinggi Kabupaten Jeneponto.
Berdasarkan penuturan sejarah lokal, tradisi ini bermula pada masa kekuasaan para Karaeng di Turatea. Alkisah, seorang penguasa lokal yang sedang mengitari wilayah kekuasaannya singgah di kawasan yang kini menjadi Desa Balang Loe. Di sana, ia tertarik pada sebuah bentuk arsitektur rumah unik milik seorang tabib lokal yang juga ahli dalam tradisi menyunat. Sang penguasa kemudian berniat menetapkan rumah tersebut sebagai rumah adat.
Kendati demikian, sang pemilik rumah merasa keberatan dan terkejut atas titah tersebut. Akibat rasa risau dan keberatan yang mendalam, sang tabib memilih membongkar rumahnya, mengubah sebagian material kayunya menjadi perahu, dan berlayar bersama keluarganya hingga bermigrasi ke wilayah Sumbawa.
Beberapa tahun berselang, generasi muda di kampung halaman yang ditinggalkan menghadapi kendala karena banyak anak laki-laki yang belum menjalani prosesi sunat akibat ketiadaan sang tabib. Para pemangku adat kemudian berinisiatif mengutus delegasi ke Sumbawa untuk memohon kepulangan sang tabib.
Meski sang tabib memilih untuk menetap di tanah rantau, beliau tetap memberikan panduan medis tradisional serta menitipkan syarat agar masyarakat menggelar ritual adat setiap bulan Safar sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari sinilah cikal bakal tradisi Je'ne-Je'ne Sappara lahir dan terus dijaga kelestariannya oleh masyarakat Balang Loe hingga saat ini.
Atraksi Olahraga Tradisional dan Pengukuhan Pengurus ISA
Dalam rangkaian perhelatan adat tersebut, berbagai kegiatan tradisional turut disaksikan langsung oleh para santri, di antaranya adalah kompetisi rakyat seperti Assempa dan A'lanja.
Kedua cabang olahraga tradisional ini khusus diperuntukkan bagi kaum pria, yang menuntut ketahanan fisik, stamina prima, sportivitas tinggi, serta pengendalian emosi yang matang. Di masa lampau, ajang ini kerap menguji mental peserta secara ketat dalam menjunjung tinggi persaudaraan di tengah arena.
Selain memperluas wawasan sejarah santri melalui metode pembelajaran luar kelas (outing class), momentum kunjungan ini juga dirangkaikan secara khidmat dengan pengukuhan pengurus baru Ikatan Santri Alfatihah (ISA) Pondok Pesantren Terpadu Alfatihah masa bakti 2026–2027.
Melalui kegiatan ini, pihak pesantren berharap para santri tidak hanya mendalami ilmu keagamaan secara teoretis, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang menghargai, merawat, dan melestarikan kearifan lokal serta budaya bangsa Indonesia.

