Kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros ini menyasar anggota Majelis Taklim Nurul Mukminin. Fokus utama program ini adalah membekali para ibu rumah tangga dengan keterampilan pengelolaan keuangan keluarga serta strategi membangun harmonisasi di tengah pesatnya disrupsi teknologi.
Fondasi Keluarga Sejahtera
Kepala KUA Mandai, Muh. Tang, dalam sambutannya menegaskan bahwa keluarga adalah unit terkecil sekaligus fondasi utama dalam membangun tatanan masyarakat yang sejahtera.
“Penguatan kapasitas keluarga, baik dari sisi literasi keuangan maupun ketahanan internal, merupakan langkah strategis. Ini adalah ikhtiar nyata kami untuk mendukung terciptanya keluarga sakinah maslahat yang adaptif terhadap tantangan zaman,” ujar Muh. Tang.
Literasi Keuangan sebagai Pilar Kemandirian
Direktur Pascasarjana Universitas Handayani Makassar, Prof. Dr. H. Mashur Razak, S.E., M.M., hadir sebagai narasumber utama terkait Literasi dan Inklusi Keuangan Keluarga. Prof. Mashur menekankan pentingnya manajemen finansial yang cerdas bagi setiap rumah tangga.
“Keluarga harus mampu memahami, mengelola, dan mengambil keputusan finansial secara bijak. Mulai dari penyusunan anggaran rumah tangga yang disiplin, pengendalian pengeluaran, hingga perencanaan keuangan jangka panjang melalui pemanfaatan layanan keuangan formal yang terpercaya,” papar Prof. Mashur.
Strategi Ketahanan Keluarga di Era Digital
Di sisi lain, Dosen Universitas Handayani Makassar, Herlinah, S.Kom., M.Si., menyoroti tantangan psikososial keluarga modern. Menurutnya, kemudahan akses e-commerce, media sosial, dan layanan keuangan digital telah mengubah perilaku konsumtif dan pola komunikasi keluarga.
“Ketahanan keluarga di era digital bukan sekadar tentang kondisi ekonomi yang mapan. Kuncinya terletak pada kemampuan menjaga komunikasi yang terbuka, saling percaya, serta mengintegrasikan nilai-nilai agama sebagai filter di tengah derasnya arus informasi,” jelas Herlinah.
Ia menambahkan, keluarga yang tangguh bukanlah keluarga yang steril dari masalah, melainkan keluarga yang mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan bangkit bersama dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Pendekatan Interaktif dan Respon Positif
Sesi diskusi berlangsung dinamis, di mana para peserta diajak membedah pola konsumsi dan membedakan antara kebutuhan primer serta keinginan sesaat. Pendekatan interaktif ini memberikan pemahaman praktis bagi peserta mengenai cara menjaga kualitas hubungan keluarga di tengah ketergantungan pada perangkat digital.
Antusiasme peserta tercermin dari diskusi yang aktif, menunjukkan relevansi materi yang disampaikan dengan realitas kehidupan rumah tangga saat ini. Kolaborasi antara sektor pendidikan tinggi dan Kementerian Agama ini diharapkan menjadi model kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat, menuju terwujudnya keluarga yang sejahtera, harmonis, dan siap menghadapi tantangan Society 5.0.

