Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Diberbuka Puasa Bersama Media & Yatim Piatu, Harwendro Gaungkan Tekad Indonesia Jadi Price Maker Timah Dunia

Kamis, 12 Maret 2026 | 13.58 WIB Last Updated 2026-03-12T06:58:14Z

SIMPULINDONESIA.com_ BANGKA BELITUNG,- Ketua Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) yang juga Komisaris Utama PT Mitra Stania Prima (MSP), Harwendro Adityo Dewanto, menyampaikan pandangannya mengenai dinamika industri timah nasional sekaligus komitmennya terhadap pemulihan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan nya dalam agenda buka puasa bersama awak media dan santunan kepada anak yatim piatu yang digelar di Hotel Aston Emidary Pangkalpinang, Rabu (11/3/2026) sore.

Dalam suasana kebersamaan tersebut, Harwendro menyoroti derasnya arus informasi yang berkembang terkait sektor pertimahan di Bangka Belitung. Menurutnya, setiap isu yang muncul tidak lagi hanya menjadi konsumsi publik lokal, melainkan juga dipantau oleh pelaku pasar internasional.

Ia menyebut pasar global seperti London Metal Exchange (LME) dan Shanghai turut memantau perkembangan yang terjadi di daerah penghasil timah tersebut.

“Setiap isu yang berkembang di daerah ini berdampak luas. Pasar internasional juga memantau. Karena itu, kita harus melihat persoalan ini secara lebih komprehensif,” papar Harwendro.

Ia juga menyinggung polemik besar yang sempat menjadi perhatian publik dan dikenal dengan istilah “271 T”. Menurutnya, tudingan monopoli yang sempat diarahkan kepada perusahaannya tidak sepenuhnya mencerminkan situasi yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

Ia mengklaim bahwa pada masa krisis tersebut dirinya justru berupaya melakukan konsolidasi dengan sejumlah pemilik smelter di luar negeri guna memastikan industri timah nasional tetap berjalan dan tidak mengalami stagnasi total.

Karena, dampak gejolak industri timah saat itu juga turut berpengaruh terhadap kondisi ekonomi Bangka Belitung. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi daerah sempat terkontraksi hingga berada di kisaran 0,77 persen, menjadikannya salah satu yang terendah secara nasional.

Namun, seiring kembali bergeraknya aktivitas pengolahan timah di sejumlah smelter, perekonomian daerah disebut mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

“Sekarang mulai bergerak lagi. Pertumbuhan ekonomi daerah kembali berada di kisaran lima hingga enam persen,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Harwendro juga menyinggung perjalanan pribadinya setelah mengikuti kontestasi politik sebagai calon legislatif yang belum membuahkan hasil sesuai harapan. 

Meskipun demikian, lanjutnya bahwa dirinya tetap memilih untuk berkontribusi bagi Bangka Belitung melalui sektor industri yang digelutinya.

“Saya merasa punya tanggung jawab moral terhadap daerah ini. Ketika situasi sulit, justru kepercayaan dari para karyawan yang membuat saya tetap bertahan dan bekerja,” tuturnya.

Disebutkannya, sebagai Ketua AETI, Harwendro mengusung gagasan agar Indonesia tidak selamanya bergantung pada mekanisme penetapan harga timah di bursa luar negeri. 

Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil peran yang lebih strategis dalam menentukan harga timah dunia.

Harwendro bahkan optimistis dalam kurun waktu satu hingga dua tahun mendatang Indonesia berpotensi menjadi penentu harga (price maker) di pasar timah global.

Menurutnya, dibandingkan komoditas mineral lain seperti nikel yang membutuhkan investasi sangat besar, timah justru memiliki posisi strategis karena Indonesia merupakan salah satu eksportir utama dunia.

“Potensinya sangat besar. Tinggal bagaimana tata kelola industri ini diperbaiki dan ada keberanian untuk mengambil langkah strategis. Kita tidak boleh selamanya menjadi price taker, tetapi harus mampu menjadi price maker di pasar global,” katanya.(Aimy/KBO Babel).
×
Berita Terbaru Update