Kompetisi yang berlangsung mulai 1 September hingga 6 Oktober 2026 tersebut menjadi salah satu ruang pembinaan bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan, membangun karakter kompetitif, sekaligus memperluas ekosistem sepak bola usia muda di daerah.
Kerja sama IM3 dan LPI Zona Bulukumba tidak hanya diarahkan pada dukungan terhadap penyelenggaraan kompetisi, tetapi juga pada penguatan ekosistem olahraga dan aktivitas digital yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.
Dukungan tersebut mencakup penguatan aktivitas kompetisi, kebutuhan komunikasi digital selama penyelenggaraan turnamen, serta menghadirkan paket kuota khusus di sekitar venue pertandingan. Kehadiran dukungan digital ini diharapkan dapat mempermudah interaksi peserta, pelatih, ofisial, komunitas, dan penggemar dengan ekosistem kompetisi.
Competition Director LPI Zona Bulukumba, Saiful Alief Subarkah yang akrab disapa SAS, mengatakan dukungan sponsorship dalam sebuah kompetisi tidak selalu harus berbentuk fresh money atau bantuan dana tunai.
“Sponsorship itu tidak selalu harus dalam bentuk fresh money. Dukungan bisa hadir dalam berbagai bentuk, seperti dukungan komunikasi, kebutuhan digital, fasilitas, promosi, maupun bentuk dukungan lain yang memberikan nilai bagi keberlangsungan kompetisi,” ujar SAS.
Menurutnya, pola kolaborasi seperti itu justru dapat membuka ruang kerja sama yang lebih luas antara penyelenggara olahraga dengan dunia usaha.
“Yang paling penting adalah bagaimana dukungan tersebut memberikan manfaat nyata terhadap kompetisi dan para peserta. Kami melihat kolaborasi dengan IM3 bukan hanya dari sisi nominal, tetapi dari value yang diberikan untuk mendukung kegiatan dan ekosistem sepak bola pelajar,” katanya.
SAS menambahkan, kerja sama dengan IM3 menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem sepak bola pembinaan yang berkelanjutan di Bulukumba.
“Kerja sama ini bukan hanya tentang sponsorship sebuah kompetisi. Lebih dari itu, kami ingin membangun ekosistem sepak bola pembinaan di Bulukumba yang melibatkan sekolah, pemain, pelatih, komunitas, pelaku usaha, hingga industri olahraga dan digital,” ujarnya.
Menurut SAS, perkembangan industri olahraga saat ini membuat kompetisi pelajar tidak lagi hanya dipandang sebagai kegiatan pertandingan semata. Kompetisi dapat menjadi ruang pertemuan berbagai kepentingan, mulai dari pembinaan atlet muda, aktivitas komunitas, promosi brand, hingga pemanfaatan teknologi dan layanan digital.
Karena itu, bentuk dukungan dari mitra usaha dinilai dapat disesuaikan dengan kebutuhan kompetisi.
“Dalam industri olahraga, value tidak selalu dihitung dari berapa besar dana yang masuk. Ada dukungan yang mungkin nilainya justru terasa dalam bentuk layanan, akses, fasilitas, komunikasi, promosi, atau teknologi yang digunakan selama kompetisi,” kata SAS.
Ia menilai pola tersebut juga dapat menjadi alternatif bagi penyelenggara kompetisi olahraga di daerah untuk membangun kerja sama dengan lebih banyak pihak.
“Dengan pendekatan seperti ini, peluang kolaborasi menjadi lebih terbuka. Dunia usaha bisa memberikan dukungan sesuai dengan kekuatan bisnisnya, sementara kompetisi mendapatkan manfaat yang benar-benar dibutuhkan,” ujarnya.
Kolaborasi antara IM3 dan LPI Zona Bulukumba sekaligus memperlihatkan semakin eratnya hubungan antara olahraga dan ekosistem digital. Kehadiran layanan komunikasi dan konektivitas di sekitar aktivitas kompetisi dapat mendukung kebutuhan peserta maupun penonton yang kini semakin bergantung pada akses digital.
Bagi kompetisi sepak bola pelajar, perkembangan tersebut membuka peluang untuk mengembangkan aktivitas pertandingan tidak hanya di lapangan, tetapi juga melalui kanal digital, publikasi, interaksi komunitas, dokumentasi pertandingan, hingga promosi potensi pemain muda.
LPI Zona Bulukumba Volume 4 sendiri diikuti oleh pelajar tingkat SMA/SMK/sederajat Se wilayah V bulukumba Bantaeng dan Sinjai.

