PADANG__SIMPULINDONESIA.COM,— Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Sumatera Barat resmi dilantik dan memasuki babak baru kepengurusan. Senin (31/08/2026).
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat, Sabtu (29/8), dengan dihadiri perwakilan Gubernur Sumbar, Ketua DPRD Sumbar, pejabat daerah, tokoh pers, serta para pemilik media siber di Ranah Minang.
Pelantikan tersebut menjadi momentum penting bagi penguatan industri media siber di Sumatera Barat di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.
JMSI dituntut tidak hanya mampu menjaga kualitas jurnalistik, tetapi juga membangun ekosistem media yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.
Ketua Umum Pengurus Pusat JMSI, Dr. Teguh Santosa, MA, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Ketua Bidang Organisasi PP JMSI, Dr. Faisal Andri Mahrawa, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa kepengurusan baru JMSI Sumbar memiliki mandat strategis untuk memperkuat posisi media siber sebagai bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
Teguh menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir secara langsung.
Meski demikian, ia memberikan apresiasi atas semangat kolektif para pengelola media siber di Sumatera Barat yang dinilai memiliki modal sosial dan budaya kuat dalam membangun pers yang berkualitas.
Dalam pesannya, Teguh menekankan tiga pilar utama yang harus menjadi perhatian JMSI Sumbar dalam menghadapi transformasi media digital.
Pilar pertama adalah membangun ekosistem media siber yang sehat.
Menurut Teguh, ekosistem tersebut harus mampu menjaga keseimbangan antara kebebasan pers, keberlanjutan bisnis media, serta perlindungan masyarakat dari informasi yang menyesatkan.
Pilar kedua adalah penguatan kapasitas profesional. Profesionalisme media, kata Teguh, tidak cukup hanya ditopang oleh perkembangan teknologi maupun tampilan sebuah situs berita.
Lebih dari itu, kualitas jurnalistik, akurasi pemberitaan, kemampuan investigasi yang etis, serta tata kelola bisnis media menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Sementara pilar ketiga adalah membangun kolaborasi strategis dengan berbagai pemangku kepentingan.
Kolaborasi tersebut dapat melibatkan pemerintah daerah, akademisi, komunitas maupun elemen masyarakat lainnya, namun tetap harus dilakukan dengan menjaga independensi jurnalistik.
"Tugas yang kalian emban bukan sekadar simbol organisasi, melainkan tanggung jawab nyata untuk mengimplementasikan nilai profesionalisme, etika, dan keberlanjutan," tegas Teguh Santosa dalam pesan tertulisnya.
Teguh juga meminta pengurus JMSI Sumbar segera membentuk tim kerja yang memiliki fokus pada sejumlah sektor strategis, mulai dari etika, verifikasi, pelatihan, hingga advokasi hubungan eksternal.
Langkah tersebut dinilai penting agar organisasi tidak berhenti pada agenda seremonial, tetapi mampu menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata bagi anggota sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap media siber.
Ia juga mendorong JMSI Sumbar menyusun program kerja tahunan yang konkret dan berbasis pada kebutuhan anggota.
Program tersebut diharapkan menjadi instrumen akuntabilitas organisasi kepada publik sekaligus memperkuat kapasitas perusahaan media yang tergabung di dalamnya.
"Saya percaya, dengan kepemimpinan yang tepat, JMSI Sumatera Barat dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun media siber yang berkontribusi pada demokrasi lokal yang sehat," tutupnya.

