KENDARI__SIMPULINDONESIA.COM,— Gelombang tekanan terhadap gerakan mahasiswa di Sulawesi Tenggara kian menunjukkan wajah gelapnya. Selasa (23/06/2027).
Setelah lantang menyoroti berbagai kasus krusial, sejumlah pengurus Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) Sulawesi Tenggara justru diduga menjadi target serangan siber misterius.
Serangan ini bukan sekadar gangguan teknis biasa. Indikasi yang muncul mengarah pada upaya sistematis untuk membungkam suara kritis mahasiswa melalui jalur digital cara halus namun mematikan dalam meredam perlawanan.
AMAN Sultra menilai, serangan terhadap perangkat komunikasi kadernya adalah bentuk intimidasi modern yang sengaja dirancang untuk melemahkan gerakan kontrol sosial.
Sasaran utamanya adalah Kabid Advokasi & Pergerakan AMAN Sultra, yang selama ini aktif menyuarakan berbagai dugaan pelanggaran di sektor publik.
Ikram Selaku Kabid Advokasi & Pergerakan AMAN Sultra menyampaikan bahwa aktivitas organisasi dalam menyampaikan kritik merupakan bagian dari fungsi mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki peran dalam mengawal kebijakan pemerintah dan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kami menyayangkan adanya tindakan yang diduga mengarah pada upaya intimidasi melalui ruang digital. Kritik dan penyampaian aspirasi adalah bagian dari demokrasi, bukan sesuatu yang harus dibungkam dengan cara-cara yang tidak sehat,” ujar Kabid Advokasi & Pergerakan AMAN Sultra.
Serangan siber ini diduga terjadi tidak lama setelah AMAN Sultra secara agresif membuka berbagai isu sensitif ke ruang publik mulai dari dugaan mandeknya penegakan hukum, praktik pertambangan bermasalah, hingga kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat luas.
Di lokasi terpisah, Ketua AMAN Sultra Firman Adhyaksa menegaskan bahwa tekanan dalam bentuk apa pun tidak akan menghentikan gerakan mereka.
Justru, dugaan serangan ini semakin memperkuat indikasi adanya pihak-pihak yang tidak ingin kebenaran terungkap.
“Kami secara kelembagaan meminta aparat penegak hukum untuk melihat persoalan ini secara serius. Ruang digital harus menjadi tempat demokrasi berkembang, bukan menjadi alat untuk menekan atau mengintimidasi pihak yang menyampaikan kritik,” tegasnya.
Alih-alih mundur, AMAN Sultra justru memperingatkan bahwa setiap bentuk intimidasi akan dilawan melalui jalur hukum dan konsolidasi gerakan yang lebih luas.
Mereka juga mengimbau kader untuk tetap waspada terhadap segala bentuk serangan, baik fisik maupun digital.
Fenomena ini menjadi alarm keras bagi demokrasi lokal. Ketika ruang digital yang seharusnya menjadi medium kebebasan berekspresi justru berubah menjadi alat teror, maka ada sesuatu yang sedang tidak beres dalam sistem.
Mereka menegaskan bahwa perjuangan menyuarakan kepentingan masyarakat akan terus dilakukan dengan tetap mengedepankan aturan dan prinsip demokrasi.
“Gerakan mahasiswa tidak akan berhenti hanya karena adanya tekanan. Kami akan tetap mengawal setiap persoalan yang menyangkut kepentingan publik,” tutup ketua AMAN Sultra.
Jika benar serangan ini terorganisir, maka ini bukan lagi sekadar kasus kriminal biasa melainkan ancaman nyata terhadap kebebasan sipil dan demokrasi itu sendiri.

