KENDARI__SIMPULINDONESIA.COM,— Tempat Hiburan Malam (THM) Exodus di Kota Kendari kembali jadi sorotan tajam publik. Selasa (05/05/2025).
Bukan karena hiburan, melainkan karena darah yang kembali tumpah. Kasus penikaman yang terjadi pada Selasa malam (5/5/2026) di lokasi tersebut menambah daftar panjang insiden kriminal yang terus berulang, di tempat yang sama.
Berlokasi di Jalan Poros Bandara Haluoleo, Kelurahan Lepolepo, Kecamatan Baruga, THM Exodus seolah tak pernah lepas dari bayang-bayang kekerasan.
Meski identitas pelaku dan korban masih misterius, satu hal yang pasti: kejadian ini bukan yang pertama.
Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, membenarkan insiden tersebut.
“Iya benar ada kejadian tersebut tadi malam dan sudah dilaporkan di Polresta Kendari,” ujarnya singkat.
Namun pernyataan itu justru memunculkan pertanyaan besar, mengapa kejadian serupa terus terulang tanpa langkah pencegahan yang nyata?
Sejak 2025, Exodus Kendari disebut-sebut menjadi titik rawan berbagai tindak kriminal, mulai dari perkelahian hingga dugaan kekerasan bersenjata tajam.
Fakta bahwa insiden terus terjadi di lokasi yang sama menimbulkan dugaan kuat adanya kelalaian serius dalam pengawasan.
Apakah sistem keamanan di dalam THM benar-benar berfungsi? Atau justru ada pembiaran yang disengaja?
Sebagai tempat yang beroperasi secara legal, Exodus seharusnya memiliki standar keamanan ketat. Namun berulangnya kasus kriminal justru mengindikasikan sebaliknya.
Di mana peran pengelola? Apakah prosedur keamanan hanya formalitas di atas kertas?
Lebih jauh lagi, publik mulai mempertanyakan peran aparat dan pihak pemberi izin.
Jika sebuah lokasi berulang kali menjadi titik kekerasan, mengapa izin operasionalnya masih tetap berjalan?
Kasus ini bukan sekadar kriminal biasa, ini adalah alarm keras bagi semua pihak, aparat Penegak Hukum (APH) yang harus bertindak lebih dari sekadar menerima laporan, pengelola THM yang wajib menjamin keselamatan pengunjung, dan pemerintah daerah sebagai pemberi izin operasional.
Jika tidak ada evaluasi serius, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan kembali terulang dengan korban berikutnya.
Masyarakat Kendari kini tidak butuh klarifikasi normatif. Yang dibutuhkan adalah tindakan tegas: investigasi menyeluruh, transparansi hasil penyelidikan, dan jika perlu penutupan sementara tempat yang terbukti berulang kali menjadi sumber masalah.
Satu pertanyaan yang kini menggema, berapa banyak lagi korban yang harus jatuh sebelum Exodus benar-benar ditindak?
