Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Kursi Kapolda Sulteng Kosong, Jenderal Polisi ‘Saling Sikut’ di Balik Perang Bintang

Kamis, 07 Mei 2026 | 12.42 WIB Last Updated 2026-05-07T05:42:26Z

Gambar : Akbar Busthami Ketua Jaringan Aktivis Sulawesi. (Foto/Ist).


PALU__SIMPULINDONESIA.COM,— Kursi Kapolda Sulawesi Tengah resmi kosong usai pensiunnya Irjen Endi Sutendi. Kamis (07/05/2026).


Namun hingga kini, surat telegram Kapolri terkait penunjukan pengganti belum juga diumumkan. 


Kondisi itu memicu spekulasi liar soal adanya “Perang Bintang” di internal Polri, menyusul ketatnya persaingan para jenderal yang disebut-sebut memburu jabatan strategis tersebut.


Lembaga Jaringan Aktivis Sulawesi bahkan mengaku telah lebih dulu mencium adanya gerakan masif dukungan di media sosial terhadap sejumlah petinggi Polri yang diduga memiliki ambisi kuat menduduki kursi Kapolda Sulteng.


Kini, setelah jabatan itu benar-benar kosong, berbagai manuver opini publik mulai terlihat terang-terangan. 


Narasi dukungan, promosi figur, hingga perang pengaruh di platform digital semakin ramai dan menjadi perhatian masyarakat.


Dua nama yang paling santer dibicarakan dalam bursa calon Kapolda Sulteng yakni Helmi Kwarta Kusuma Putra dan Adrianto Jossy Kusumo. 


Keduanya disebut-sebut memiliki peluang besar untuk mengisi posisi orang nomor satu di Polda Sulteng.


Di tengah memanasnya persaingan, Ketua Jaringan Aktivis Sulawesi, Akbar Busthami, mengingatkan bahwa siapa pun yang nantinya ditunjuk harus memiliki rekam jejak bersih, khususnya terkait penanganan kasus tambang ilegal yang selama ini menjadi persoalan kronis di Sulawesi Tengah.


Menurutnya, Sulteng bukan sekadar wilayah dengan tantangan kamtibmas biasa, tetapi juga daerah yang sarat kepentingan investasi dan aktivitas pertambangan yang rawan praktik ilegal.


“Kapolda Sulteng ke depan harus tegas, profesional, dan tidak punya catatan negatif soal tambang ilegal. Penegakan hukum terhadap mafia tambang harus jadi prioritas,” tegas Akbar saat ditemui di sebuah warkop di Jakarta Pusat.


Pernyataan itu dinilai menjadi sinyal keras bahwa publik tidak lagi menginginkan pemimpin kepolisian yang kompromistis terhadap praktik tambang ilegal maupun dugaan beking aktivitas perusakan lingkungan.


Selain persoalan tambang, Kapolda baru juga akan menghadapi tantangan kompleks mulai dari konflik sosial, kriminalitas, hingga pengamanan investasi dan kawasan industri strategis di Sulawesi Tengah.


Belum keluarnya surat telegram Kapolri pun memunculkan dugaan adanya tarik-menarik kepentingan di level elite. 


Publik menilai proses penentuan Kapolda Sulteng masih berlangsung dinamis di tengah ketatnya persaingan para kandidat jenderal polisi.


Meski demikian, Akbar Busthami tetap memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Irjen Endi Sutendi yang dinilai berhasil menjaga stabilitas keamanan di Sulawesi Tengah melalui pendekatan pemolisian masyarakat.


“Di masa kepemimpinan beliau, Sulteng relatif aman dan tenteram,” pungkasnya.

×
Berita Terbaru Update