Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, menghadiri ritual yang menjadi bagian penting dari kekayaan budaya masyarakat adat Kajang tersebut. Kegiatan ini turut dihadiri para pemangku adat Kajang atau Galla, Pimpinan dan anggota DPRD Bulukumba, Sekda Bulukumba Muh. Ali Saleng, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), serta masyarakat adat Kajang.
Ritual Andingingi merupakan tradisi tahunan masyarakat adat Kajang yang mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, keharmonisan kehidupan, serta hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.
Kepala Desa Tanah Toa, Kecamatan Kajang, Zulkarnain, yang juga merupakan pemangku adat bergelar Galla Lombu, menjelaskan bahwa Andingingi dilaksanakan sebagai bagian dari tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun dan terus dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat Kajang.
Menurutnya, ritual ini memiliki makna untuk memohon keselamatan, ketenteraman, kedamaian, serta keberlimpahan rezeki bagi masyarakat, sekaligus menjaga hubungan yang harmonis dengan alam.
“Ritual Andingingi ini merupakan tradisi yang terus kami lestarikan. Maknanya adalah menjaga keharmonisan antara alam dan masyarakat, agar kehidupan senantiasa tenteram, damai, serta masyarakat memperoleh rezeki yang berlimpah,” jelas Zulkarnain.
Ia menambahkan, pelaksanaan ritual Andingingi tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi harus melalui persetujuan Ammatoa selaku pemimpin adat Kajang. Prosesi ritual juga dilaksanakan di beberapa lokasi sesuai dengan jadwal dan ketentuan yang telah disepakati dalam tatanan adat.
Kehadiran Ritual Andingingi sebagai pembuka Festival Pinisi XVI menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat Kajang kepada khalayak luas.
Tradisi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana nilai-nilai adat tetap hidup dan menjadi pedoman masyarakat dalam menjaga keseimbangan kehidupan serta kelestarian lingkungan.
Selain Ritual Andingingi, Festival Pinisi XVI Tahun 2026 juga menghadirkan beragam tradisi dan pertunjukan budaya khas Kajang. Di antaranya Angngaru Kajang, Tari Pabitte Passapu yang dibawakan oleh para tetua adat Kajang, Tunu Panroli, Pa Basing, Kelong Jaga, demonstrasi pembuatan sarung Kajang asli, serta sajian kue khas Kajang.
Berbagai atraksi tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan tradisi masyarakat Kajang, mulai dari ritual adat, seni pertunjukan, keterampilan tradisional, hingga kuliner khas yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui Festival Pinisi XVI, Pemerintah Kabupaten Bulukumba berharap kekayaan budaya lokal semakin dikenal luas dan tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Kehadiran Ritual Andingingi dalam agenda pembuka festival juga menegaskan bahwa daya tarik pariwisata Bulukumba tidak hanya bertumpu pada keindahan alam dan tradisi maritim, tetapi juga pada kearifan lokal serta nilai-nilai adat yang terus hidup dan dijaga oleh masyarakatnya.(*)

