Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Iklan

Kejanggalan Barcode MyPertamina di SPBU THR, Atika Tuntut Pertanggungjawaban, Benarkah Ada Jual Beli Barcode?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08.35 WIB Last Updated 2026-10-03T01:35:14Z

Gambar : Postingan Atika di akun media sosialnya. (Foto/Ist).


KENDARI__SIMPULINDONESIA.COM,— Sistem transaksi BBM bersubsidi menggunakan barcode MyPertamina di SPBU THR, Jalan Budi Utomo No.34, Kelurahan Mataiwoi, Kecamatan Wua-Wua, Kota Kendari, dipertanyakan. Sabtu (03/10/2026).


Seorang konsumen, Atika Harli, mengaku mengalami persoalan setelah barcode MyPertamina miliknya tercatat telah digunakan untuk transaksi pengisian BBM sekitar satu jam sebelum dirinya melakukan pengisian.


Ironisnya, Atika mengaku saat itu justru masih berada dalam antrean panjang di SPBU tersebut.

Persoalan itu terjadi pada Rabu (30/9/2026). 


Ketika tiba giliran kendaraannya mengisi BBM, barcode miliknya disebut sudah tercatat digunakan dalam transaksi sebelumnya.


Kondisi tersebut membuat Atika mempertanyakan bagaimana barcode yang berada dalam penguasaannya bisa digunakan lebih dahulu oleh kendaraan lain, sementara dirinya belum melakukan transaksi pengisian.


Keluhan itu kemudian disampaikan Atika melalui akun Instagram pribadinya. Ia mempertanyakan mekanisme pengawasan transaksi barcode di SPBU THR, termasuk bagaimana petugas dapat memastikan barcode yang digunakan benar-benar milik kendaraan dan konsumen yang melakukan pengisian.


“Bukan baru satu kali ini kejadian, pasti kalian masih ingat. Baru satu jam, panjangnya antrean, tidak mungkin saya keliling pengantri lagi, baru saya yang punya barcode. Kita ambil nomor, enggak kembali itu. Kan kita bilang semua yang pakai barcode, kita ambil nomornya,” ujar Atika.


Atika kemudian meminta pihak SPBU menelusuri transaksi yang tercatat menggunakan barcode miliknya.


Menurut dia, transaksi tersebut baru terjadi sekitar satu jam sebelumnya sehingga semestinya masih dapat ditelusuri, termasuk kendaraan yang melakukan pengisian dan pihak yang menggunakan barcode tersebut.


“Telepon kan mi itu, siapa yang pakai barcode saya, karena baru-baru. Terus berarti siapa yang pakai barcode saya, kita bilang semua yang pakai barcode lain, kita minta nomornya. Ini di Pertamina THR, satu jam yang lalu ada yang pakai barcode saya di sini,” katanya.


Namun, Atika mengaku tidak memperoleh solusi yang dianggap memadai dari pihak SPBU.


Ia justru meminta adanya kejelasan mengenai siapa pengguna barcode miliknya dan bagaimana barcode tersebut dapat digunakan dalam transaksi sebelum dirinya mengisi BBM.


“Tidak ada solusinya, saya cuma mau dikasih nomor HP. Coba, panjangnya sama pengantri, baru barcode saya dipakai di sini. Saya datang, tidak ada solusinya. Saya bilang, telepon itu yang pakai barcodeku,” ujar Atika.


Kasus yang dialami Atika membuka pertanyaan lebih jauh mengenai sistem pengawasan transaksi BBM berbasis barcode di SPBU.


Jika barcode seorang konsumen tercatat telah digunakan sebelum konsumen tersebut melakukan pengisian, maka publik berhak mendapatkan penjelasan mengenai bagaimana transaksi tersebut dapat terjadi.


Persoalannya bukan semata-mata barcode yang berstatus telah digunakan. Ada rangkaian pertanyaan yang perlu dijawab, siapa yang melakukan transaksi, kendaraan mana yang mengisi BBM, kapan transaksi berlangsung, dan bagaimana proses verifikasi dilakukan oleh petugas SPBU.


Pertanyaan lainnya adalah sejauh mana petugas memastikan barcode yang dipindai sesuai dengan kendaraan yang melakukan pengisian.


Keluhan Atika pun mendapat respons dari sejumlah warganet. Mereka mempertanyakan mekanisme verifikasi barcode MyPertamina di lapangan.


Akun Instagram @cikhaacuu_22 mempertanyakan peran petugas SPBU dalam memastikan kesesuaian barcode dengan kendaraan.


“Yang salah pegawai SPBU-nya, kenapa diisikan kalau beda barcode dengan plat mobil,” tulisnya.


Sementara akun @syawal_pesulap_ Kendari mempertanyakan dari mana pihak lain memperoleh barcode milik konsumen.


“Dari mana dia ambil itu barcode kalau bukan oknum Pertamina yang berikan,” tulis akun tersebut.


Akun itu juga mengaku pernah mengalami persoalan serupa. Menurut pengakuannya, barcode miliknya pernah digunakan dalam transaksi di SPBU, sementara barcode tersebut disebut tidak pernah diketahui pihak lain selain petugas SPBU.


Namun demikian, pernyataan warganet mengenai dugaan keterlibatan oknum petugas SPBU tersebut masih sebatas klaim di media sosial dan belum dapat dipastikan kebenarannya.


Karena itu, diperlukan penelusuran dan penjelasan resmi dari pihak SPBU THR maupun Pertamina untuk memastikan apakah persoalan tersebut terjadi akibat kesalahan sistem, kesalahan administrasi, kelalaian dalam proses verifikasi, atau terdapat mekanisme lain dalam penggunaan barcode yang belum diketahui konsumen.


Kasus ini juga menuntut transparansi mengenai rekam transaksi barcode.


Apabila sistem mencatat barcode Atika telah digunakan sekitar satu jam sebelumnya, semestinya terdapat data transaksi yang dapat menjadi dasar penelusuran. 


Data tersebut setidaknya dapat menjelaskan waktu transaksi, lokasi SPBU, serta kendaraan yang melakukan pengisian.


Atika meminta persoalan tersebut tidak berhenti pada keterangan bahwa barcode miliknya telah digunakan.


Ia menuntut adanya pertanggungjawaban dan penjelasan mengenai bagaimana barcode miliknya bisa masuk dalam transaksi sebelum dirinya melakukan pengisian BBM.


Bagi Atika, persoalan tersebut juga menyangkut kerugian waktu karena dirinya telah mengantre panjang tetapi justru tidak dapat melakukan pengisian ketika tiba gilirannya.


Hingga berita ini ditayangkan, pihak SPBU THR maupun Pertamina belum memberikan penjelasan resmi terkait keluhan Atika mengenai penggunaan barcode MyPertamina miliknya.

×
Berita Terbaru Update